RADAR JOGJA – Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Irwan Yuniatmoko memastikan jejak satwa liar yang ditemukan di Dusun Ngancar, Glagaharjo Cangkringan bukanlah macan tutul. Hasil identifikasi sementara, ciri tapak mengarah pada jejak kaki anjing kampung.

Identifikasi ini dikuatkan dengan bentuk tapak. Terutama yang tertinggal di beton jalan jalur evakuasi Dusun Singlar – Dusun Suruh Cangkringan. Terdapat kuku berbentuk runcing di depan jari dengan bantalan kaki menyerupai segitiga.

“Kalau dilihat bentuknya, ini jejak anjing karena bisa dilihat dari ciri-cirinya. Ada kuku di depan jari dari tapak jejak tersebut dan dari bantalan menyerupai segitiga. Kalau keluarga kucing tidak seperti ini,” jelasnya, usai meninjau penemuan jejak tapak kaki, Selasa (24/11).

Ciri tapak keluarga kucing, lanjutnya, berbentuk lonjong. Saat berjalan tak pernah menancapkan kuku ke tanah atau tersimpan. Ciri ini tak nampak pada temuan jejak kaki di Dusun Ngancar.

Hasil identifikasi, pemilik jejak kaki tak hanya satu ekor. Setidaknya ada 3 ekor satwa yang melintas. Hanya saja ukuran tubuhnya berbeda-beda.

“Kalau ukuran, bisa sebesar jejak macan, cuma ini ada kukunya dan bentuk bantalannya mirip jejak anjing. Memang ada jejak lain dari jenis yang berbeda, tapi sama-sama dari jenis anjing,” katanya.

Walau begitu, pihaknya juga tak ingin terburu-buru. Guna memastikan, TNGM akan memasang trap camera. Fokus pemasangan adalah daerah perlintasan satwa. Tujuannya untuk mengetahui jenis satwa yang melintas. 

“Untuk meyakinkan, TNGM akan pasang trap camera. Agar lebih bisa dipastikan, jenis satwa yang melintas lokasi ini,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara