RADAR JOGJA – Menuju penyelenggaraan pembelajaran sekolah tatap muka pada awal semester genap tahun ajaran 2020/2021 berbagai hal dan tahapan dipersiapkan Pemerintah Kota Jogja. Tidak serta merta, pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan melalui proses bertahap.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan untuk tahap awal Pemkot tengah melakukan finalisasi rancangan aturan tentang penyelenggaraan proses belajar mengajar tatap muka. ”Tapi kami tetap harus hati-hati bahwa keselamatan anak-anak dan warga harus jadi perhatian,” katanya usai mengahadiri Bimtek di Hotel The Alana Malioboro Senin (23/11).

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Diantara yang tengah dipersiapkan dalam aturan tersebut terkait kemampuan sekolah menjalankan protokol kesehatan (prokes). Termasuk, untuk melengkapi fasilitas prokes Covid-19 antara lain alat tes suhu, tempat cuci tangan di setiap kegiatan pembelajaran.

Selain itu, kesiapan sekolah terkait kapasitas kelas, kesiapan sekolah juga guru manakala siswa masuk di lingkungan sekolah dan kelas, bagainana proses pembelajaran di kelas, sistem pembelajaran shift, dan ketika siswa meninggalkan sekolah usai proses pembelajaran selesai, serta alur masuk dan keluar siswa.

Menurutnya, tidak boleh ada masa istirahat di sela pembelajaran tatap muka. Karena Pemkot memiliki ketetapan untuk tahap awal pembelajaran tatap muka di sekolah hanya cukup 2 jam setiap pertemuan. Disamping, membatasi kapasitas di dalam kelas yang diperkirakan sekitar seperempat dari kapasitas kelas tersebut.

”Bila dalam satu kelas ada 32 siswa maka dibatasi hanya 8 anak setiap kelasnya. Setiap shift ini juga nanti kita atur,” jelasnya.
Diantara persiapan tersebut, yang paling penting sekolah bisa menjalankan proses pembelajaran tatap muka jika orang tua menginginkan. Terkait teknisnya, saat ini masih dalam diskusi pihak pemkot. “Kami berharap November sampai Desember ini merupakan tahap persiapan, sosialisasi dan uji coba,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Sekolah SDN Demangan, Sukawit menyatakan kesiapannya untuk menjalankan proses pembelajaran tatap muka di sekolah. Disamping, segala rekomendasi dari pemkot sudah dipersiapkan. Juga sebagian besar orang tua dan siswa sudah menginginkan sekolah tatap muka. ”Pada umumnya malah kepengen di sekolah, orang tua dan anaknya iya. Tetapi kekhawatiran itu kan ada. Ada yang boleh ada yang tidak boleh, tentu kalau boleh kami menjaga,” katanya.

Kendati demikian, manakala terdapat orang tua masih belum menginginkan anaknya pembelajaran tatap muka di sekolah, pihaknya akan memberikan pelayanan ganda agar siswa dapat menerima pelayanan pendidikan. ”Jadi guru tugasnya juga ganda nanti, ada kunjungan ke siswa yang masih belajar online,” terangnya. (wia/bah)

Nusantara