RADAR JOGJA – Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto menyatakan adanya wacana penambahan tenaga kesehatan di Jogjakarta. Langkah ini sebagai antisipasi lonjakan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Di samping itu juga penambahan ruang rawat inap isolasi bagi pasien Covid-19.

Fokus utama penambahan tenaga medis kepada tiga rumah sakit besar, yakni RSUP Dr Sardjito, RSPAU Hardjolukito dan Rumah Sakit Akademi (RSA) UGM. Setidaknya dibutuhkan 150 hingga 200 SDM bidang medis.

“Antisipasi kasus meningkat, kami ingin bisa direspon dengan kapasitas rumah sakit. Kendala kami tidak hanya ruangan tapi sumber daya manusianya karena perlu kekhususan,” jelasnya ditemui di Bangsal Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (24/11).

Penambahan SDM sebanyak 150 hingga 200 telah melalui kajian. Setidaknya tenaga yang dibutuhkan adalah bidang keperawatan, dokter, radiografer hingga petugas laboratorium. Dari total tersebut, jumlah kebutuhan tenaga perawat paling mendominasi.

Penambahan SDM, lanjutnya, juga mengacu pada kapasitas ruang rawat inap isolasi. Dia mencontohkan pembangunan fasilitas di RSPAU Hardjolukito. Ruangan gedung baru ini dapat menampung hingga 200 pasien. Artinya jumlah kebutuhan tenaga medis juga menyesuaikan.

“Kalau ruangan yang diperlukan saat ini bukan bed isolasi biasa tapi utamanya dengan kemampuan kritis atau ICU. Ini yang angel sulit. Tiga rumah sakit nambah bed 150 sampai 200, ini sifatnya jaga-jaga dan tidak abai,” katanya.

Penambahan tenaga medis melibatkan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dibawah Kementerian Kesehatan. Untuk kemudian didistribusikan ke rumah sakit yang membutuhkan. Setidaknya di 3 rumah sakit rujukan Covid-19 utama.

Keterlibatan Pemprov DIJ pada sektor pendukung. Tepatnya fasilitas penunjang bagi tenaga medis. Seperti rumah atau kamar istirahat setelah menjalani tugas medis.

“Bentuk bantuan dari Pemda menyediakan perumahannya untuk tenaga yang dikirim. Mereka kan disini hingga 3 bulan. Lalu ditempatkan di Hotel Mutiara untuk istirahat disana,” ujarnya.

Rukmono berharap tenaga medis tambahan bisa datang secepatnya. Ini karena Jogjakarta tergolong tinggi atas mobilisasi manusia. Tentunya juga berimbas pada potensi persebaran kasus Covid-19.

“Kedepannya ada libur panjang 24 Desember, lalu tahun ajaran baru. Ini tetap waspadai adanya kemungkinan peningkatan. Penambahan (tenaga medis) kalau bisa secepatnya. Sementara menunggu, kami gunakan tenaga medis yang sudah ada,” katanya. (dwi/tif)

Nusantara