RADAR JOGJA – Saemaul Globalization Foundation bersama Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korea Selatan menyelenggarakan Pelatihan Saemaul 2020 di Indonesia. Biasanya, pelatihan ini digelar di Korea Selatan dengan mengundang beberapa perwakilan ASN dan Warga Desa Percontohan Saemaul. 

Adanya pandemi Covid-19 membuat acara pelatihan dilangsungkan secara daring di negara peserta pelatihan, salah satunya di Indonesia. Bertempat di Prime Plaza Hotel Jogja, acara yang dimulai 16-20 November ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Mengusung tema ‘Keberhasilan Saemaul Undong di Korea Selatan : Peran Penting Pemerintah/ASN dalam Kesuksesan Saemaul Undong’. 

Presiden Direktur Saemaul Globalozation Foundatio Chang Donghee dalam sambutan virtualnya menyampaikan, Melalui Saemaul Undong (Gerakan Desa Baru), Korea Selatan mencapai kemajuan ekonomi dalam waktu sangat singkat. Mereka menyebutnya sebagai keajaiban

sungai Han. 

“Setelah Yayasan didirikan pada tahun 2012 dengan dukungan Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk-do yang merupakan tempat lahirnya Saemaul Undong, kami terus berupaya untuk mencapai tujuan UN SDGs dengan berbagi know-how kepada seluruh dunia tentang pembangunan desa dan penanganan kemiskinan di Korea Selatan,” ungkapnya, Senin (16/11).

Perwakilan dari Saemaul Globalization Foundation Seunghoon Hong menyebutkan, sebanyak 15 orang perwakilan ASN dari Gunungkidul dan DIJ diajak untuk memahami peran ASN dalam Saemaul Undong.

“Para pakar saemaul undong dari Universitas Yeungnam Korea Selatan memaparkan materi terkait pengertian saemaul undong, peran pemimpin desa dan ASN dalam saemaul undong, pemahaman tentang bank desa serta koperasi atau unit usaha desa,” jelasnya.

Salah satu peserta dari perwakilan BAPPEDA DIJ Doddy Bagus Jatmiko mengatakan, Saemaul undong merupakan program pembangunan masyarakat desa untuk mengentaskan kemiskinan dan menjadi lebih berkembang lagi. Inovasi dari saemaul undong adalah adanya bantuan ‘diskriminatif’, yakni desa yang bagus mendapatkan bantuan lebih banyak sehingga tercipta kompetisi yang sehat antardesa. 

“Salah satu peran ASN adalah mengarahkan, menyusun regulasi, dan juga harus bisa memfasilitasi gerakan warga. Tugas lain ASN adalah menyeimbangkan peran top-down dan bottom-up,” ujarnya.

Peserta pelatihan dari BPTBA LIPI Gunungkidul Vita Taufika Rosyida juga membandingkan pelaksanaan pelatihan Saemaul di Korea Selatan tahun lalu dengan sekarang. Dengan pelatihan secara daring, menurutnya tidak mengurangi pemahaman materi pelatihan. Hanya saja pertanyaan dari peserta tidak bisa langsung direspon oleh narasumber. 

“Untuk penerapan protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan baik. Sebelum dan sesudah pelatihan, peserta dan panitia diwajibkan untuk melakukan rapid tes atau swab guna mencegah penyebaran Covis-19,” katanya.

Sebagai penutup pelatihan, peserta diminta untuk memaparkan action plan guna mendukung Program Pembangunan Desa Percontohan Saemaul yang dilaksanakan oleh SGF di Kabupaten Gunungkidul. Peserta juga diminta membuat rencana kegiatan di calon lokasi Desa Percontohan. 

Guna mendukung Program Pembangunan Desa Percontohan Saemaul di Gunungkidul, para ASN mempersiapkan pelatihan dan pendampingan untuk membuat bibit jamur dan pemasaran produk budidaya jamur. Untuk calon lokasi desa percontohan yang baru, Pemerintah Daerah merekomendasikan wilayah yang menjadi prioritas pengentasan kemiskinan di DIJ. (*/tif)

Nusantara