RADAR JOGJA – Ketua Peneliti Ge-Nosevid UGM Kuwat Triyana menargetkan produksi alat penguji Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dimulai medio November. Setelah uji diagnostik di 9 rumah sakit telah rampung, ditargetkan adalah memproduksi 120 hingga 200 unit.

Dosen Fisika FMIPA UGM ini menjelaskan tahapan telah sampai pada manufakcturing. Pihak konsorsium, lanjutnya, telah bekerja sejak pekan lalu. Artinya secara umum, timnya telah siap memproduksi puluhan ribu unit setiap bulannya.

“Tapi kan tidak bisa seperti itu. Produksi besar baru bisa dilakukan jika hasil uji diagnostik sudah muncul. Harus membukitan produk dulu apakah reliable untuk masyarakat,” jelasnya ditemui RSUP Sardjito, Senin (26/10).

Disinggung mengenai harga uji sampel nafas, Kuat belum bisa menjawab. Dia ingin semua tahapan rampung terlebih dahulu. Hingga akhirnya diputuskan harga standar uji nafas Ge-Nosevid kepada publik.

“Kami bercita-cita agar biaya uji serendah mungkin,” katanya.

Peneliti Ge-Nosevid Dian Kesumapramudya Nurputra memastikan kesembilan rumah sakit telah siap. Tak hanya rumah sakit di DIJ tapi juga Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jakarta. Proses pengujian diagnostic berlangsung selama 3 Minggu.

Selain RSUP Sardjito, ada pula RSPAU Hardjolukito, RS Bhayangkara DIJ, RSLKC Bambanglipuro dan RSA UGM. Selain itu RST Soetarto, RST Soedjono di Magelang Jawa Tengah, RSUD Syaiful Anwar di Malang Jawa Timur dan RS Bhayangkara Jakarta.

“Total sampel yang diuji di 9 rumah sakit itu mencapai 3.200 sampel. Diharapkan uji diagnostik dapat dilakukan dalam waltu 3 minggu,” ujarnya.

Tahapan ini telah meningkat dibandingkan uji klinis. Uji diagnostik sendiri bertujuan untuk mengetahui tingkat keakuratan Ge-Nosevid. Caranya dengan membandingkan sampel dengan swab PCR.

“Saat pengambilan sampel memang bersamaan dengan uji swab PCR. Agar ada pembanding akurasi,” katanya.

Lebih jauh, Dian berharap Ge-Nosevid dapat menjadi alat diagnosis. Tingkatannya setara dengan uji swab PCR. Sehingga perannya tidak hanya sebatas alat skrining.

“Paling tidak sensitivitas diatas 97 persen. Jadi lebih efisien dan efektif dalam mendeteksi Covid-19 dan sebarannya,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara