RADAR JOGJA – Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman bersiap diri menghadapi La Nina. Fokus utamanya adalah tanaman hortikultura dan perikanan. Diketahui bahwa sektor ini rentan terhadap tingginya intensitas suplai air.

Kepala DP3 Sleman Heru Saptono tak menampik La Nina bisa menjadi momok bagi petani. Dia mencontohkan adanya badai Cempaka. Walau skalanya kecil namun sektor pertanian dan perikanan di Sleman sempat porak poranda.

“Badai Cempaka saat itu hanya sebentar tapi efeknya luar biasa, sampai gagal tanam dan panen. Tanaman petani busuk karena akar terendam air. Lalu kolam ikan juga banyak yang jebol,” jelasnya ditemui di Kantor Setda Pemkab Sleman, Rabu (14/10).

Berkaca pada kejadian ini, Heru tak ingin lengah. Terlebih La Nina diprediksi berlangsung hingga Maret. Ditambah bersamaan dengan musim penghujan. Sehingga menyebabkan suplai air sangat melimpah.

“Karakteristik La Nina saat ini berbeda dengan 2017. Ada eskalasi kenaikan curah hujan hingga 40 persen. Overlay atau bersama dengan musim penghujan,” katanya.

Jajarannya telah berkomunikasi dengan petani di seluruh Sleman. Solusi pertama adalah menggeser awal musim tanam. Langkah ini untuk menghindari musim panen di puncak La Nina. Agar tak terjadi tanaman rusak dan berujung gagal tanam dan gagal panen.

Pergeseran difokuskan pada tanaman hortikultura. Masa tanam berlangsung lebih cepat sebelum masa tanam tanaman padi. Terbukti dengan pembagian benih jagung ke sejumlah kelompok petani.

“Hortikultura itu rentannya akar busuk kalau terendam air. Sudah kami bagikan benih jagung dan kami minta untuk segera tanam. Sehingga awal musim penghujan datang sudah siap tanam padi,” ujarnya.

Dia juga meminta para petani memantau sistem drainase. Tak hanya perkebunan dan sawah tapi juga perikanan. Tujuannya untuk memastikan suplai air tak berlebihan selama La Nina berlangsung.

“Saat badai Cempaka itu juga bobol kolamnya. Suplai air berlebihan, kolam mbludag dan ikannya bablas. Ini seharusnya bisa diantisipasi, karena prediksi La Nina sudah jelas,” katanya. 

Kepala Staklim BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menuturkan La Nina saat ini berada di Samudera Pasifik. Kekuatan dari badai ini kisaran lemah hingga moderate. Walau inti badai tak berada di Indonesia, namun dampaknya tetap signifikan.

Munculnya La Nina kali ini berbeda dengan 2017 silam. Intensitas curah hujan lebih tinggi sekitar 40 persen. Alhasil potensi bencana hidrometrologi juga meningkat. Diantaranya angin kencang, banjir dan tanah longsor.

“Saat ini (La Nina) sudah terjadi di kawasan timur Indonesia di kawasan Samudera Pasifik. Puncaknya Januari – Februari 2021, lalu mulai melemah di Maret 2021. Ini perlu diantisipasi, terutama untuk mitigasi bencananya,” katanya.

Sleman, lanjutnya, menjadi daerah pertama yang diguyur hujan. Prediksi Sleman sisi barat dan utara akan memasuki musim penghujan Oktober dasarian II hingga dasarian III. Menyusul kemudian wilayah-wilayah di selatannya.

“Wilayah terakhir yang memasuki musim hujan pada November dasarian I adalah wilayah Gunungkidul,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara