RADAR JOGJA – Bencana berdampak besar bagi ekonomi masyarakat. Upaya penanganan dampak tersebut kini tengah diupayakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan program pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi dan rekontruksi khususnya pembenahan non infrastruktur.

Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Rifai menjelaskan, pihaknya telah melakukan upaya pendampingan kepada masyarakat sebagai langkah penanganan dampak pasca bencana. Diakuinya bahwa akibat bencana yang telah terjadi belakangan sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Akibatnya, beberapa elemen penting hilang seperti sumber pendapatan ekonomi dikarenakan rusaknya fasilitas, alat, bahan dan market produksi. Untuk itu, guna menanggulangi permasalahan tersebut pihaknya bersama pemerintah daerah berusaha agar masyarakat bisa kembali mendapatkan sumber pendapatan. Sehingga kehidupan ekonomi bisa kembali seperti sedia kala.

“‎Kami melakukan pendampingan terhadap usaha warga yang terdampak bencana dan disesuaikan dengan kearifan lokal di daerah tersebut. Kami berusaha ikut mengangkat kembali, sehingga mereka mampu meningkatkan pendapatan pasca bencana,” jelasnya Kamis (24/9), disela Pameran Produk Unggulan Perdagangan, Pariwisata dan Investasi di Jogja City Mall.

Rifai menambahkan, langkah tersebut juga merupakan dedikasi BNPB untuk melakukan rehabilitasi dan rekontruksi ekonomi masyarakat yang diterpa bencana. Pihaknya juga membantu pemasaran hasil pendampingan pada kelompok terdampak bencana.

Di era industri 4.0 ini, Rifai menyatakan bahwa BPNB mulai berfokus pada pengembangan digitalisasi khususnya kepada usaha warga terdampak bencana. Untuk itu, pihaknya juga menggandeng e-commerce untuk memasarkan produk masyarakat terdampak bencana.

“Sekarang dunia dipersempit dengan digitalisasi, untuk itu dengan pandemi Covid-19 ini semua aspek kehidupan harus merubah sistem. Yang kita kenal selama ini dengan transaksi ofline, sekarang harus online,” terangnya.

“Dengan era 4.0 kita kenalkan e-commerce. Saya kemarin ketemu dengan Direktorat Jendral UMKM, dia akan back up. Jadi kekuatan perekonomian yang ada dengan program ekonomi khusus UMKM, semua nanti serba digital,” lanjutnya.

Saat ini BPNB sudah memiliki lebih dari 200 mitra binaan. Beberapa produk yang sudah diproduksi dan ditampilkan dalam pameran diantaranya olahan bawang putih “Black Garlic” yang sudah menembus pangsa pasar eropa, kopi “Kepahiang” Bengkulu, kopi “Sajang” Lombok Timur, NTB, UKM kopi “Karya Mandiri” Lombok Barat, NTB dan “Baratas Coffee” Banjarnegara, Jateng.

Selain itu juga produk olahan lain seperti coklat seperti tepung “Mocaf” dari Sumedang, produk kerajinan pakaian “Jogjavanesia” dari Kulon Progo, dan kain tenun “lurik tenun sari” dan batik tulis “Melathi Wijaya” dari Sukoharjo. (inu/tif)

Nusantara