RADAR JOGJA – Persebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di kalangan karyawan dan tenaga kesehatan (karkes) mendominasi Sleman. Tercatat ada 115 kasus muncul sejak awal pandemi. Pasiennya adalah perawat, dokter hingga karyawan fasilitas pelayanan kesehatan.

Munculnya kasus ini berawal dari berbagai tindakan medis. Mulai dari pemeriksaan secara mandiri hingga tracing kasus. Adapula pemetaan oleh Satgas Covid-19 setiap wilayah di Jogjakarta.

“Tren penularan di Sleman, screening nakes cukup tinggi. Tercatat ada 115 kasus sejak awal pandemi Covid-19,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo, ditemui di Kantor Dinkes Sleman, Senin (14/9). 

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini memiliki beberapa kajian terkait temuan kasus. Mayoritas karkes terkonfirmasi positif Covid-19 justru bukan bagian penanganan Covid-19. Mereka berasal dari klinik kesehatan hingga instalasi gawat darurat (IGD).

Tingkat penularan para karkes Covid-19 justru sangat kecil. Penyebabnya adalah tingginya protokol di seluruh ruang perawatan pasien. Diawali dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) level tertentu.

“Positif (Covid-19) banyak di IGD dan poliklinik. Kalau di (instalasi) Covid-19 malah sedikit karena pakai APD. Tapi kalau poliklinik biasa tidak semua pakai APD. Ini analisa kami,” katanya.

Analisa kedua adalah banyaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 asimptomatik. Pasien ini rentan menulari banyak orang, termasuk karkes. Tak adanya gejala membuat pasien merasa leluasa untuk berinteraksi.

Joko tak menampik angka asimptomatik cukup tinggi. Terlebih setelah Menteri Kesehatan menerbitkan Revisi V terkait penanganan kasus dan pasien Covid-19. Pasien hanya menjalani rawat inap isolasi selama 10 hari ditambah 4 hari isolasi mandiri.

“Kelonggaran terhadap ketentuan seperti revisi V. Orang ini tetap membutuhkan pelayanan kesehatan, tapi yang tidak diketahui tetap datang ke poliklinik lalu IGD. Mereka ini tidak diketahui status covidbya,” ujarnya.

Analisa ketiga adalah aktivitas harian para karkes. Di luar profesi sebagai karyawan maupun tenaga kesehatan, tetap ada rutinitas harian. Berinteraksi dengan banyak orang di tempat yang berbeda.

Pada tahapan ini rentan terjadi penularan kepada karkes. Termasuk penularan kasus dari pasien asimptomatik kepada para karkes. Terlebih di era adaptasi kebiasaan baru. Sehingga interaksi dan komunikasi menjadi lebih intens. 

“Tenaga kesehatan ini kan warga biasa. Saat pulang atau libur kerja tetap ikut aktivitas masyarakat secara umum. Mulai dari olahraga, piknik hingga hajatan. Jadi peluang tertular juga tinggi. Sumber penularan dari aktivitas sosial,” katanya.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman, akumulasi kasus per Minggu (13/9) mencapai 695 kasus. Untuk kasus berdasarkan kontak tracing mencapai 262 kasus. Menyusul kemudian pemetaan karkes sebanyak 115 kasus. Tracing aktivititas perjalanan mencapai 114 kasus. Sisanya 165 kasus adalah pemetaan kasus secara umum.

“Untuk saat ini total kasus karkes yang masih positif (Covid-19) ada sekitar 20an kasus. Sudah sangat berkurang. Dulu ada screening (Satgas Covid-19) Bantul tapi sudah sembuh semua,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara