RADAR JOGJA – ER, 41 dan Y, 45 tak tahu harus kemana lagi mengadu. Laporan kekerasan seksual yang menimpa anaknya tak segera diproses oleh penyidik Satreskrim Polres Sleman. Bocah perempuan berusia 9 tahun ini menjadi korban pelecehan seksual oleh tetangganya sendiri di Dusun Jambon, Gamping, Sleman.

Ditemui di kediamannya, Y menceritakan detil kejadian yang menimpa anak ketiganya ini. Peristiwa memilukan ini terjadi 11 Juli. Kala itu sang buah hati ingin meminjam sepeda kepada tetangganya berinisial SDRO, 40.

“Anak saya memang biasa meminjam sepeda di situ. Jadi anaknya dia (SDRO) memang berteman dengan anak saya. Apalagi rumahnya memang bersebelahan,” kisahnya ditemui di kediamannya, Rabu (9/9).

Setibanya di kediaman SDRO, gadis ini dituntun masuk kamar. Di tempat inilah dugaan pelecehan seksual terjadi. Terlapor membuka celana milik korban.

Usai melecehkan korbannya, terlapor langsung mengancam. Apabila melaporkan atau cerita berdampak pada keselamatan kedua orangtuanya. Ancamannya membunuh orangtua bocah gadis.

“Anak saya ceritanya Minggu malam tanggal 12 (Juli), kalau kejadiannya malam Minggunya. Anak saya diancam jika ngomong sama siapa-siapa mamah papahmu mati. Saya shock mendengar itu,” katanya sembari terisak.

Tak terima atas perlakuan ini, ER dan Y melaporkan kejadian ke Polres Sleman, (15/7). Keduanya juga sempat sambat ke beberapa tetangganya. Sayangnya tak semua tetangga menaruh rasa empati atas kejadian ini.

“Ada pro dan kontra. Kami sendiri menjadi tak nyaman karena sikap tetangga beda-beda. Anak sudah saya ungsikan sementara waktu,” ujarnya.

Laporan di kepolisian sendiri telah tercatat secara resmi. dalam Laporan Polisi Nomor: STTLP/444/VII/2020/DIY/Sleman. Tak hanya ke polisi, Y dan ER juga membawa anaknya ke psikolog. Pendampingan psikolog bertujuan meredam luka psikis anak. Tak hanya melibatkan psikolog tapi juga psikiater dari RSUP Sardjito. Hasilnya, sang bocah mengalami depresi ringan akibat peristiwa tersebut.

“Ceritanya selau sama dari awal sampai akhir soal pelecehan ini. Bahkan saat pindah ke psikolog di RSUP Sardjito, ceritanya masih sama,” katanya.

Luka psikis terlihat saat sang anak melihat terlapor. Y menceritakan anaknya kerap ketakutan bahkan lari saat melihat SDRO. Inilah yang membuat sang bocah diungsikan dari lingkungan tinggalnya sementara waktu.

“Awal-awal kejadian anak saya enggak bisa tidur. Biasanya makan 4 kali sehari seneng makan sekarang susah makan, harus disuapin. Kalau lihat pelaku langsung masuk (rumah),” ujarnya.

Di sisi lain, kekecewaan diungkapkan oleh ER. Ayah sang gadis menilai pihak penyidik lamban dalam menangani kasus. Dia merasa kasus anaknya tak menjadi prioritas penyidik. Dia sempat menanyakan kepada penyidik. Jawabannya adalah alasan depresi ringan. Menurutnya jawaban tersebut bukanlah ketegasan dan kepastian. Terlebih pelecehan telah terjadi dan membuat psikis anaknya terluka.

“Apakah (pelecehan seksual) tunggu harus ada penetrasi dulu, apakah harus depresi berat dulu? Apakah depresi ringan tidak bisa. Sampai detik ini belum ada titik terang padahal sudah dua bulan lebih,” keluhnya.

Dihubungi terpisah, Kasatreskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah berjanji akan mendalami penyelidikan. Pihaknya tengah berkoordinasi dengan Unit PPA selaku penanggungjawab penyelidikan kasus. Dia menegaskan kasus ini masih dalam pendalaman pihaknya.

“Saya tanya PPA dulu ya soal kasus tersebut. Besok saya update infonya,” katanya, Kamis (10/10). (dwi/tif)

Nusantara