RADAR JOGJA – Paparan informasi terkait virus korona yang berlebihan, dapat memicu rasa cemas, khawatir, hingga stress. Bahkan tak jarang tubuh seperti merasakan gejala mirip Covid-19 usai menerima informasi terkait gejala infeksi virus korona.

Spesialis Penyakit dalam Konsultan Psikosomatis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Noor Asyiqah Sofia menjelaskan, sebenarnya gejala yang muncul adalah manifestasi dari gangguan psikosomatik. Untuk mencegah terhindar dari gangguan psikosomatis, hal penting yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan respons relaksasi tubuh terhadap stres, seperti olahraga.

Cara lainnya, adalah dengan istirahat yang cukup untuk menekan adanya hormon korsitol atau hormon stees. Bisa pula dengan mengatur pola makan yang bergizi dan seimbang untuk membantu menurunkan kadar hormon korsitol dan adrenalin saat stres. “Serta meningkatkan kualitas spiritual dan religiusitas,” jelas Sofia melalui keterangan tertulis, Jumat (27/8).

Apabila sudah terjadi gangguan psikosomatik, tambah Sofia, maka diperlukan pendekatan holistik dalam penanganannya. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan terhadap gangguan psikis yang mendasari maupun pendekatan terhadap gangguan fisik yang terjadi akibat gangguan psikosomatik tersebut.

Misalnya, pada orang yang mengalami serangan sesak nafas berulang dipicu oleh gangguan cemas. Selain penanganan pada keluhan sesak nafasnya, yang tidak kalah penting adalah penanganan yang optimal terhadap gangguan cemasnya. “Baik berupa pemberian obat anti cemas maupun pemberikan psikoterapi yang sesuai,” tutur Sofia.

Sofia menjelaskan, psikosomatik merupakan gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisik. Disebabkan faktor psikologis atau peristiwa psikososial tertentu. Hal itu umumnya terjadi akibat kurangnya kemampuan adaptasi seseorang dalam menghadapi stress. “Jika sudah menjadi gangguan psikosomatik berarti bukan merupakan reaksi normal. Sebab, sudah terjadi gangguan pada fisik pasien,” kata Sofia.

Psikosomatik, tambahnya, dapat terjadi melalui proses emosi yakni stress yang tidak mampu diadaptasi dengan baik. Lalu, emosi yang diproses oleh otak tersebut akan disalurkan melalui susunan saraf ke organ-organ tubuh. Misalnya, saluran pencernaan, saluran pernafasan, dan sistem hormonal. Seperti pada individu yang merasa sesak nafas, hal tersebut menandakan adanya gangguan psikosomatis di saluran pernafasan. Hal tersebut terjadi jika sesak nafas yang didapat sangat dipengaruhi oleh kondisi psikis pasien.

Tidak hanya bagi orang yang sakit, gangguan psikosomatik bisa terjadi baik pada orang sehat. Pada orang yang secara fisik sehat, gangguan psikosomatik ini akan menimbulkan manifestasi yang beragam, seperti sering berdebar-debar, keringat dingin, keluhan pencernaan seperti kembung mual, dan gangguan tidur.

Sementara itu, apabila gangguan psikosomatik ini terjadi pada orang yang secara fisik sudah sakit, maka psikosomatis bisa memperberat penyakit yang telah diderita. “Bisa menurunkan kualitas hidup dan kepatuhan terhadap pengobatan,” ungkapnya. (eno/din)

Nusantara