RADAR JOGJA – Realisasi investasi di DIJ semester I 2020 melambat sebesar 28,3 persen dibanding periode yang sama 2019. Dominasi capaian realisasi investasi berada di Kulonprogo. Karena keberadaan bandara YIA. Meski nilainya sudah mulai menurun.

Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIJ Agus Priyono menjelaskan, realisasi investasi untuk semester I 2020 mencapai Rp 1,5 triliun. Menurun dibandingkan realisasi investasi semester I 2019 yang tercatat Rp 2,1 triliun. Masih didominasi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 1,48 triliun. Sedang penanaman modal asing (PMA) baru Rp 21,4 miliar.

“Sebagian besar penanaman modal ada di Kulonprogo,” katanya dalam siaran pers realisasi investasi semester I 2020 di kantor DPPM DIJ Kamis (27/8). Agus menyebut, investasi PMDN dan PMA di Kulonprogo mencapai Rp 1,2 triliun. Baru kemudian diikuti Kota Jogja Rp 206,2 miliar, Sleman Rp 50,3 miliar, Bantul Rp 18,5 miliar. Dan Gunungkidul paling rendah, Rp 388,5 juta.

Mantan diplomat RI di Jerman itu menambahkan, untuk investasi di Kulonprogo didominasi oleh sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi. Keberadaan pembangunan bandara YIA disebutnya menjadi alasan tingginya investasi di Bumi Menoreh.

Tapi DPPM DIJ juga mencatat, capaian realisasi investasi di bandara YIA sudah menurun sekitar Rp 300 miliar.
Kepala Bidang Pengembangan dan Pengendalian Penanaman Modal M Sukarno Tri PR menyebut, hal itu dikarenakan sudah mulai selesainya pembangunan YIA. “Sekarang kan YIA sudah beroperasi, nilai investasi untuk pembangunan banyak yang turun, ” ungkapnya.

Meskipun begitu, dia optimistis realisasi investasi terkait bandara YIA masih tetap tinggi. Dia mencontohkan, dengan rencana pengembangan kawasan aerotropolis di seputar YIA. Hal itu diharapkan bisa menarik investor dari sektor hotel, restoran maupun perdagangan untuk berinvestasi di sana. “Sekarang tinggal menarik investor terkait multiplier effect dari bandara,” ungkapnya.

Agus juga optimis, setelah bandara YIA beroperasi ada multiplier effect yang didapat. Di antaranya dia menawarkan investor untuk menggandeng sektor UMKM. Menurut dia, dibandingkan daerah lain, DIJ masih memiliki keunggulan dalam sumber daya manusia, faktor budaya hingga status keistimewaan. Hal yang sama juga akan dikembangkan di wilayah lainnya di DIJ. Dengan harapan ada penciptaan pusat ekonomi baru. “Dengan itu ketimpangan pendapatan, yang menjadi masalah DIJ selama ini, bisa diatasi,” tuturnya. (pra)

Nusantara