RADAR JOGJA – Posko Dukungan Operasi Satgas Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) resmi bubar. Seremonial penutupan berlangsung di halaman tengah Kantor BPBD DIJ. Diikuti oleh anggota TRC BPBD dan puluhan relawan dari berbagai elemen.

Komandan TRC BPBD DIJ Wahyu Pristiawan memastikan bubarnya posko final. Pertimbangan utamanya adalah telah terisinya celah kosong penanganan Covid-19. Tepatnya tim yang menangani pemakaman dan dekontaminasi sesuai protokol Covid-19.

“Kalau sekarang dianggap bisa menjalankan fungsinya, ya sudah keberadaan posko dukungan sudah tidak dibutuhkan dan relevan lagi ya kami tutup saja. Apakah kebutuhan akan posko masih dibutuhkan atau tidak bukan kami yang bisa menjawab,” jelasnya, ditemui di Posko Dukungan Operasi Satgas Covid-19, Rabu (26/8).

Pris, sapaannya, memastikan tak ada perbedaan sudut pandang. Walau begitu dia tetap tak bisa menjabarkan detil permasalahan. Diketahui bahwa terjadi konflik internal dalam tubuh Satgas Covid-19. Berawal dari perbedaan persepsi antar tim ketugasan.

Pris sempat melontarkan idiologi kerelawanan. Penjabarannya adalah sudut pandang kemanusiaan dalam penanganan Covid-19. Dia tak ingin ada kepentingan lain yang menumpangi kerelawanan ini.

“Kemanusiaan jangan sampai dikotori oleh hal yang tidak sepantasnya. Jaga bersama, jangan sampai persoalan yang tidak sepantasnya dibebankan kepada kawan posko dukungan,” tegasnya.

Bubarnya posko bukan berarti TRC BPBD tak bekerja. Prinsipnya adalah dikembalikan para relawan ke wilayah tugas awal. Sementara untuk TRC BPBD DIJ tetap berada di bawah Satgas Covid-19.

Hanya saja, jajarannya tetap mendorong penanganan Covid-19 tetap optimal. Termasuk perubahan dan perbaikan di beberapa sistem manajemen bencana. Sayangnya Pris enggan gamblang menjelaskan celah tersebut.

“Penutupan (posko) ini salah satu bentuk dorongan (perubahan dan perbaikan sistem). Setelah ini kami belum ada arahan, kami ikuti statemen pak Kalak (Kepala Pelaksana BPBD DIJ) saja,” ujarnya.

Saat dimintai pernyataan terkait peran satgas Covid-19 desa, Pris enggan berkomentar. Menurutnya tanah tersebut bukan lagi menjadi wilayahnya. Walau begitu dia memastikan tetap melakukan pendampingan apabila diperlukan.

“Satgas desa kami tidak mau menilai itu, itu wewenang gugus tugas (Covid-19). Seluruh data dan kondisional fakta sudah kami laporkan. Sesuai tugas kami di TRC yaitu memberikan rekomendasi,” katanya.

Manager Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BPBD DIJ Danang Samsurizal mengakui ada dilema tersendiri. Keberadaan tim Posko Dukungan Operasional Satgas Covid-19 efektif. Hanya saja ada kebijakan yang harus dijalankan. 

“Banyak masyarakat yang berterimakasih. Ada yang japri sebenarnya menyayangkan tapi mau bagaimana lagi ada kebijakan yang harus dilaksanakan. Mewakili Gugus Tugas (Covid-19) DIJ mengucapkan terimakasih atas peran teman-teman,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara