RADAR JOGJA – Kabupaten Sleman mengalami lonjakan kasus Corona Virus Disease 2019 besar-besaran selama kurun waktu tiga hari belakangan. Diawali dengan 28 kasus pada 31 Juli, menyusul kemudian 40 kasus pada 1 Agustus dan 13 kasus pada 2 Agustus. Penyebabnya adalah transmisi lokal hingga hasil screening kasus. 

Berdasarkan data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemkab Sleman penambahan kasus berawal dari berbagai latar belakang. Mulai dari kedatangan dari luar daerah lalu menular ke lingkungan sekitar dan keluarga. 

“Ada hasil screening tenaga medis khususnya Puskemas. Dari tracing rapid tes lanjut swab dan ketemu kasusnya. Ada juga dari koperasi simpan pinjam yang sudah terjadi local transmision,” jelas Bupati Sleman Sri Purnomo ditemui di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Senin (3/8).  

Imbas dari lonjakan kasus ini adalah menipisnya ruang inap isolasi bagi pasien positif Covid-19. Tercatat kapasitas total tempat tidur di Sleman mencapai 117. Data sementara menyebutkan sebanyak 105 tempat tidur telah terpakai.

Kebijakan ini ditempuh guna mengantisipasi lonjakan kasus. Pemanfaatan asrama haji sejatinya bukan hal baru. Sebelumnya fasilitas ini telah dimanfaatkan mengisolasi pasien reaktif rapid diagnostic test (RDT).

“Kebijakan kami menjadikan asrama haji sebagai tempat isolasi pasien positif asimtomatik. Khusus bagi pasien yang secara fisik sehat seperti OTG. Tapi kalau nanti gejala (Covid-19) nampak, baru dirujuk rumah sakit,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo memastikan pemanfaatan asrama haji telah melalui koordinasi. Kapasitas gedung ini sendiri mencapai 138 ruangan. Setiap ruangan akan dihuni oleh satu pasien positif Covid-19.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini membenarkan menipisnya kapasitas ruang inap isolasi. Secara keseluruhan ada 117 kamar inap isolasi. Dari total tersebut telah digunakan sebanyak 105 kamar inap isolasi. 

“Jadi asrama haji difokuskan untuk merawat pasien positif asimtomatik. Hari ini masuk (menghuni asrama haji) sudah 20 kasus. Ini karena kapasitas rawat inap isolasi belakangan ini sudah sangat penuh,” ujarnya.

Pemanfaatan asrama haji sesuai dengan pedoman Kemenkes yakni Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 413 Tahun 2020. Merawat pasien positif asimtomatik dan bergejala ringan tak perlu di rumah sakit rujukan.

Dalam pedoman tersebut juga disebutkan perihal uni swab. Bagi pasien positif asimtomatik tak perlu menjalani uji swab pengecekan. Artinya sepuluh hari setelah dinyatakan positif, pasien dapat langsung pulang. Dengan catatan tambahan empat hari isolasi mandiri di rumah.  

“Menurut pedoman revisi 5, OTG maupun gejala ringan boleh isolasi di rumah, tapi dengan pertimbangan kedisiplinan masyarakat maka kami harapkan yang positif tetap di asrama haji,” katanya.

Pertimbangan lain pemanfaatan asrama haji adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Jajarannya sempat berkoordinasi dengan manajemen rumah sakit. Sayangnya rumah sakit tersebut tidak bisa menyanggupi pemanfaatan ruang inap isolasi yang ada.

“Sempat hubungi rumah sakit di Sleman yang memiliki kapasitas besar tapi SDMnya kurang. Lalu rumah sakit di Bantul ternyata kendalanya sama, SDM kurang,” ujarnya. (dwi/tif)

Nusantara