Kampus ASRI di Gampingan, Wirobrajan, Kota Jogja, yang menjadi cikal bakal Institut Seni Indonesia (ISI) menyimpan kenangan tersendiri. Tidak hanya bagi lulusan atau mantan mahasiswanya, tapi juga warga sekitar dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kampus seni pertama di Indonesia.

JIHAN ARON VAHERA, Jogja, Radar Jogja

Nama Bambang Raharjo, 73, tidak bisa dilupakan begitu saja dalam keberadaan kampus ASRI. Selain merupakan warga sekitar yang tinggal tidak jauh dari kampus seni itu, Bambang juga menjadi karyawan sejak tahun 1963 dan dalam perjalanannya pernah menjabat kepala tata usaha ASRI.
Bambang pun mengaku ikut merintis ASRI ketika masa-masa itu. Dia ingat benar bagaimana kondisi dan suasana ASRI pada zaman dahulu. Dia menjelaskan saat itu belum seramai sekarang.
“Di sepanjang jalan masuk itu (Pasar Serangan, Red) dulu belum ada. Di sana masih kebun, banyak sekali pohonnya. Dan jalannya juga belum seperti sekarang,” tutur Bambang saat ditemui Radar Jogja kemarin (18/1).
Dia menjelaskan, dulu dari mahasiswa hingga dosen dan staf masih jarang, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang menggunakan sepeda motor ke kampus. Demikian juga Bambang mengendarai sepeda ontel untuk aktivitas sehari-hari.
Kini Bambang mengisi waktu luangnya dengan membuat kandang ayam. Waktu itu ia juga menerima mahasiswa-mahasiswa ASRI yang ingin kos. Dia melihat banyak mahasiswa yang datang dari luar kota, sehingga membutuhkan tempat tinggal yang dekat.
Kemudian ia berinisiatif menerima mahasiswa ASRI yang ingin kos di rumahnya. “Dulu itu kos per bulan Rp 50 ribu. Kalau tidak salah lho,” kata Bambang.
Dia mengaku sangat bangga dan senang pernah menjadi bagian dari ASRI. Dia berharap kepada para mahasiswa ISI tidak melupakan sejarah asal mula kampusnya. Dia ingin mahasiswa-mahasiswa ISI menjadi mahasiswa yang sukses dan menjadi seniman-seniman berkualitas.
Selain Bambang, ada Poniyem yang juga memiliki kenangan terhadap kampus ASRI. Poniyem, 70, rumahnya berada di wilayah kampus ASRI, tepatnya di depan gerbang masuk JNM sekarang.
Poniyem dulu ikut membantu berjualan di warung makan Mbah Kartodarman yang juga ayah angkatnya. Warungnya menjual lotek, pecel, tahu guling, tahu susur atau tahu brontak. “Macam-macam, komplet,” jelasnya.
Warung Mbah Kartodarman terletak di sekitaran pintu masuk kampus ASRI. Namun kini sudah tidak ada lagi sepeninggal Kartodarman dan berganti menjadi warung makan dimiliki kerabatnya. Namun Poniyem tetap bantu-bantu di warung itu dan tidak pindah. “Tidak ingin melupakan kenangan zaman dulu,” katanya.
Dia menceritakan dulu warung Mbah Kartodarman merupakan warung yang sangat diminati para mahasiswa ASRI. Mereka sering makan di warung itu. Tak jarang Mbah Karto menggratiskan makanannya untuk para mahasiswa yang tidak memiliki uang.
“Mbah Karto bilang ndak papa, ndak papa sini makan tidak usah bayar,” ucap Mbak Pon, sapaan akrab para mahasiswa ASRI makan di wartungnya, saat menceritakan tentang Mbah Karto dulu.
Mbak Pon ingat sekali makanan yang paling disukai para mahasiswa adalah tahu susur/tahu brontak. Setiap makan yang ditanyakan pasti tahu isi itu.
Dia juga menceritakan bagaimana mahasiswa ASRI yang duduk menyantap makanannya senang sambil bergurau dengan temannya, kadang sesekali juga menggodanya. “Dulu kan saya masih muda, jadi anak-anak itu pada jahil,” tuturnya sseraya tersenyum.
Dia menjelaskan kini anak-anak ASRI yang dulu sering makan di warungnya telah sukses dan berkeluarga. Namun, mereka tidak pernah melupakan jasa-jasa dan kebaikan Mbah Karto dan Mbak Pon.
“Ada yang memberi uang, dan lain-lain. Itung-itung untuk mengganti yang dulu Mbak Pon,” ungkap Poniyem saat menirukan ucapan anak-anak ASRI dulu yang sering makan di warungnya. (laz)

Nusantara