RADAR JOGJA – Kepala Sub-Bidang Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Magelang Didin Syaifudin menjelaskan, penelitian mengenai solusi pengelolaan limbah pasar menggunakan maggot sedang dijalankan. Penelitian di dua pasar yakni Pasar Rejowinangun dan Pasar Gotong Royong.

Pihaknya bekerja sama dengan UPT Pasar untuk mengkonversi sampah menjadi pupa maggot. “Nanti bisa ditindaklanjuti oleh dinas terkait,” jelasnya.
Agus Prasetyo, peneliti dari UGM Jogjakarta, dilibatkan. Dia mengembangkan solusi alternatif pengelolaan limbah pasar dengan menggunakan maggot. Makhluk sejenis lalat ini cukup efektif digunakan untuk mengkonversi dari sampah sayur dan buah menjadi pakan hewan. Proses biokonversi ini memiliki keuntungan tersendiri selain dijadikan kompos.

Awalnya, telur maggot dikembangbiakkan di wadah yang berisi sayur dan buah. “Untuk merintis memang harus beli telur. Tapi, kalau siklus sudah berjalan, tidak perlu lagi. Memakai telur hasil peranakan maggot dewasa,” jelas Agus.
Maggot mengalami siklus mulai dari telur, larva, pupa, sampai dewasa. Larva memakan sampah sisa pedagang pasar. Nantinya larva itu berubah menjadi pupa.

Pupa inilah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Harga pupa maggot bisa mencapai 100 ribu per kilogram. Umumnya, pupa maggot digunakan untuk pakan unggas dengan kandungan protein yang sangat tinggi sehingga mampu menghasilkan unggas berkualitas unggul.

Agus menjelaskan, poin dari penelitiannya bukan pada sisi ekonomi maggot. Melainkan, ujarnya, dari segi pengelolaan limbah pasar.
Dari pengembangbiakan maggot, dia mengaku mampu mereduksi sampah 73,69 persen di hari ke-21. Jika dilakukan dalam skala besar tentu akan berdampak signifikan pada pengurangan sampah.

“Pengembangbiakan maggot sebenarnya bisa juga dilakukan dalam skala rumah tangga. Asal sampah organik basah maggot doyan makan. Hanya saja memang perlu telaten,” jelasnya. (asa/amd)

Nusantara