RADAR JOGJA – Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kota Magelang dalam mengatasi pencemaran sungai. Salah satunya pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) khusus untuk industri tahu.
“Sehingga pada saat keluar ke sungai, (air limbah tahu) sudah dalam baku mutu air,” jelas Kepala Bidang Industri Disperindag Kota Magelang Prawerti Prajnajati.

Proyek ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi. Proyek yang menelan anggaran sebesar Rp 2,9 miliar ini dikerjakan sejak 2 Agustus lalu.
Setidaknya, ada 26 unit usaha skala rumah tangga di Tidar Campur, Tidar Selatan, Magelang Selatan. Mereka menggantungkan perekonomian dari memproduksi tahu. “Kalau dulu memang belum bisa dibuat (IPAL). Kendalanya banyak. (Rumah penduduk) di sana sangat rapat. Tidak mudah pada saat itu,” jelasnya.

Waluyo, 55, salah seorang pelaku industri tahu, mengakui hal tersebut. Menurutnya, pembuatan IPAN secara perorangan sulit. Sebab, biayanya mahal.
”Sekarang senang limbahnya ada yang nampung. Limbah ada kegunaan untuk biogas,” jelasnya.

Selama ini limbah tahu hanya dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Saat ini limbah mulai disalurkan ke IPAL. Hanya saja, limbah itu belum diproses lebih lanjut.

Waluyo menggeluti usaha tahu sejak 1996. Unit usaha yang dikelolanya dapat menghasilkan 75 hingga 100 kilogram tahu per hari. ”Per masak 15 kilogram, jadi empat ember. Per ember Rp 50 ribu, 150 potong,” jelasnya.

Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Magelang Bambang Purwanto memaparkan, indeks pencemaran air di Kota Magelang masih jauh dari target. DLH mencatat indeks pencemaran air pada 2017 sebesar 46,471 dari target 75,65. Sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 52 dari target 75,57.

Pengambilan sampel dilakukan di beberapa sungai. Di antaranya, Sungai Progo, Kali Elo, Kali Bening, dan Kali Manggis. Pengendalian pencemaran sungai tidak bisa dilakukan parsial.

Kepala Seksi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan, Pratika Andini menjelaskan, sungai-sungai yang berada di Kota Magelang merupakan aliran dari daerah Temanggung dan Wonosobo. “Jadi, sampai sini sudah tercemar,” jelasnya. (asa/amd)

Nusantara