JOGJA – Hasil evaluasi pelaksanaan uji coba semipedestrian perdana di kawasan Malioboro, mencuatkan wacana pelarangan bus berdimensi besar masuk kota. Itu dimaksudkan supaya kantong parkir di dalam kota bisa menampung kendaraan pengunjung Malioboro.

Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi menyambut baik wacana tersebut. Menurut dia, pelarangan bus besar saat Selasa Wage adalah salah satu solusi mengurai kemacetan. “Bus besar akan berhenti di terminal dan tempat parkir wisata. Lalu wisatawan diangkut menggunakan shuttle. Memang sejalan, itu juga menjadi rencana kami,” katanya, Minggu (30/6).

Tapi HP mengaku, tengah mempelajari mekanisme lapangan. Walau masih dalam tahap wacana, namun perlu sebuah cetak biru. Tujuannya agar implementasi manajemen lalulintas dapat berjalan sesuai perencanaan.

Pemkot akan menyelaraskan pelarangan bus besar dengan program Malioboro bebas kendaraan. Selain itu juga menjaring masukan dari warga. Terutama warga dan pelaku ekonomi di kawasan Malioboro dan Kota Jogja pada umumnya. “Tetap kami pelajari dampaknya, karena nantinya tidak hanya berdampak ke Malioboro tapi ke wilayah lain juga. Terutama wilayah yang  beririsan dengan kawasan destinasi wisata,” jelasnya.

Terkait shuttle, Pemkot baru memperoleh hibah shuttle Si Thole dari Pemprov DIJ. Beda dengan sebelumnya, shuttle Si Thole baru ini mampu mengangkut hingga 14 orang. “Shuttle ini merupakan bantuan Pemprov untuk Pemkot, lalu dihibahkan pada koperasi FKAAU (Forum Komunikasi Alun-Alun Utara),” ujar Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti saat memperkenalkan  shuttle Si Thole yang baru dalam acara Jalan Sehat Bank Jogja di Stadion Kridosono.

Ketua Koperasi FKAAU Muhammad Fuad Andreago menuturkan, untuk sementara masih melayani trayek dalam Njero Beteng saja. Maksimal hingga Taman Pintar. Untuk melayani hingga kawasan Malioboro, Fuad mengaku masih akan mengkaji. “Ada kata menyebut Malioboro dan Njero Beteng, tapi akan kami kaji dulu,” tuturnya di tempat yang sama.

Itu juga terkait dengan kepadatan lalu lintas di kawasan Malioboro. Fuad mencontohkan, seperti ruas Jalan mataram atau di Jembatan Kleringan, yang jading diputar hingga Kridosono saat macet. “Kami juga hitung dengan waktu tempuh wisatawan, kalau terlalu lama (wisatawan) gak mau nunggu,” ungkapnya.

Pemkot Jogja telah melakukan evaluasi mandiri. Salah satunya adalah titik kemacetan pasca-penerapan semipedestrian Selasa Wage. Berdasarkan catatannya, volume kendaraa  mulai berkurang di zona utama. Adapula pantauan peningkatan kendaraan di zona luar.

Pada hari normal, penumpukan volume kendaraan justru terfokus pada zona utama. Sebut saja Jalan Malioboro, Jalan Mataram, Jalan Brigjen Katamso, dan Jalan Bhayangkara. Ruas jalan ini kerap terpantau padat pada jam-jam tertentu.

“Bisa menjadi pertimbangan untuk kawasan zona utama dulu. Kawasan  itu tidak dilewati bus-bus besar, belum keseluruhan. Menyusul rencana strategis lain, agar bus besar hanya transit di titik terluar kota Jogja,” ujar HP. (dwi/pra/er)

Nusantara