RADAR JOGJA-Negara maju perlu berperan aktif dalam memastikan distribusi vaksin terjadi secara merata di seluruh penjuru dunia, khususnya di negara-negara berkembang, agar roda perekonomian dunia bisa kembali berjalan normal dan bertumbuh dengan baik.

Managing Director of Development Policy and Partnerships Bank Dunia, Mari Elka Pangestu menjelaskan hampir 60 persen pertumbuhan ekonomi dunia disumbangkan oleh negara-negara berkembang. Di saat yang sama, vaksin menjadi kunci penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian. Tanpa vaksin, kegiatan masyarakat akan sangat terbatas dan berisiko tinggi.

“Jadi, jika perekonomian negara berkembang tidak segera pulih atau malah mengalami kemunduran, maka perekonomian dunia juga tidak akan pulih. Berbicara tentang kerja sama global, negara maju memiliki kewajiban memastikan adanya akses yang adil terhadap vaksin,” tegasnya.

Oleh karena itu, transparansi terkait produksi, distribusi, dan ketersediaan vaksin menjadi sangat penting demi terwujudnya akses merata terhadap vaksin di seluruh penjuru dunia.

“Saat ini transparansi sangat kurang, baik dari pihak swasta maupun pembeli. Transparansi terkait berapa banyak (vaksin) yang dibeli, dipesan, dan diproduksi. Hal ini penting untuk mengetahui berapa banyak lagi vaksin yang dibutuhkan,” katanya.

Sementara itu Profesor Tikki Pangestu dari Yong Loo Lin School of Medicine, National University of Singapore,  mengatakan bantuan vaksin dari negara maju, negara-negara berkembang juga perlu memacu produksi vaksin lokal.

Produksi vaksin membutuhkan teknologi yang kompleks didukung dengan fasilitas produksi dan dukungan teknis yang mumpuni.

Di samping jaminan kualitas ada pula sejumlah aturan dan kebijakan yang harus dipenuhi (dalam upaya produksi vaksin).

Di indonesia sendiri, yang merupakan salah satu negara berkembang, persentase masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin masih sangat rendah. Dia mencatat baru lima hingga tujuh persen masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama. Sementara untuk vaksin dosis kedua, jumlahnya bahkan lebih rendah lagi, yakni hanya empat persen.

“Serangan pandemi COVID-19 telah membawa dampak besar bagi dunia dan negara-negara di dalamnya, khususnya bagi negara-negara berkembang dan negara-negara miskin.

Berbagai negara mengalami perlambatan pertumbuhan, penurunan ekonomi karena pembatasan, penghentian total sejumlah aktivitas, tingkat kemiskinan yang semakin tinggi, hingga penurunan drastis kemampuan kognitif pada anak-anak,”jelasnya. (sky)

Nusantara