JEMBER – Plawangan yang merupakan gerbang masuk-keluar nelayan Puger menuju Laut Selatan memang dikenal berombak ganas. Sudah berkali-kali terjadi kecelakaan kapal di sana. Petaka yang terjadi pukul 08.15 mengakibatkan enam anak buah kapal (ABK) meninggal, Kamis (19/7). Empat lainnya belum ditemukan. Sedangkan 12 orang dinyatakan selamat.

Dilansir dari jawapos.com, Kapolres Jember AKBP Kusworo menyatakan, korban meninggal karena terlempar dari perahu saat terbalik. “Ombak seperti ini akan terus membesar sampai beberapa hari,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, perahu yang dinakhodai Dirman, warga Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, itu membawa 22 nelayan. Sebanyak 21 orang di antara mereka merupakan ABK.

Perahu jenis payang dengan menggunakan jaring itu melaut pada Rabu (18/7) lalu. Musibah terjadi ketika perahu hendak pulang dengan muatan penuh ikan. Sebagaimana yang juga disaksikan Jawa Pos Radar Jember dari tepi pantai, sesaat setelah kapal terbaik, para nelayan berusaha menyelamatkan diri. Ada yang masih bergelantungan di badan perahu.

Tak berapa lama, seluruh ABK dan nakhoda terlempar ke laut. Sebagian terjebak di dalam perahu. Mereka yang terjebak itu adalah yang tadinya bergelantungan saat perahu terangkat.

Setelah tercebur, masing-masing ABK langsung berusaha menyelamatkan diri. Mereka terlihat berupaya mencari tumpuan untuk berenang. Meraih apa saja yang terjangkau tangan. Drum plastik berukuran lumayan besar yang terlempar ke laut juga menjadi rebutan para ABK. Ada yang terlihat bertahan di drum dan ada yang akhrinya terlepas.

Sementara itu, sedikitnya ada tiga ABK yang saling berebut papan kayu. Mereka berusaha menepi ketika ombak datang dan berhasil selamat.

Sejumlah nelayan lain masih terperangkap di dalam perahu. Perahu yang posisinya sudah terbalik itu terus terombang-ambing. Sempat agak minggir, tapi terseret lagi ke tengah hingga puluhan meter.

Pencarian masih dilakukan tim SAR dengan dibantu nelayan sekitar. Empat nelayan yang hilang itu juga tinggal sekampung di Dusun Mandaran, Desa Puger Kulon.

Di kalangan nelayan Puger, Dirman dikenal jago menakhodai kapal. Dia merupakan nelayan sukses. Tak heran jika pada usianya yang masih tergolong muda, 45 tahun, Dirman sudah memiliki kapal seharga ratusan juta rupiah dan sering kali menakhodainya sendiri.

Namun, Kamis (19/7) kemarin, rupanya, merupakan hari apesnya. Dirman tak bisa berbuat banyak saat perahunya dihantam ombak besar. Kepiawaiannya membaca ombak tak banyak membantu. Kepiawaian membaca ombak itu merupakan “ilmu wajib” yang harus dimiliki para nelayan Puger. Konon, sebelum memasuki wilayah Plawangan, nakhoda menghentikan sebentar perahu. Saat itulah nakhoda menghitung ombak.

Pada hitungan kesekian, ombak akan mengecil sebelum akhirnya besar lagi. Nah, saat hitungan kesekian itulah, biasanya nakhoda langsung menggeber perahunya menembus ganasnya ombak Plawangan.

Para nelayan sebenarnya sudah diberi tahu bahwa ombak dalam beberapa hari ini cukup besar. Tapi, mereka tetap nekat melaut karena memang saat ini mulai musim ikan. Sedang banyak-banyaknya sampai sekitar Agustus nanti.

Dari Jakarta, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar mengungkapkan, KKP sudah menerbitkan aturan keselamatan pelayaran. “Tapi, kompetensi dan kesadaran nelayan relatif masih rendah,” jelasnya. (jpc/ila)

Nusantara