JAKARTA – Jenny Sawolino, dokter kecantikan abal-abal alias palsu bertarif mahal, berhasil dibekuk petugas Polres Metro Jakarta Selatan saat sedang melayani klien di toilet salah satu mal.
Lalu, dari mana Jenny mendapatkan pengetahuan tentang kecantikan tersebut? Lulusan SMA itu ternyata hanya belajar dari internet. Yakni, mencari lewat Google hingga mengintip YouTube.
Untuk meyakinkan para kliennya, Jenny biasa menyertakan kartu nama dan kertas resep yang dibubuhi nama dan gelar dokter palsu.
Kanit Kriminal Khusus Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKP Riki Yariandi menambahkan, kasus tersebut terungkap berkat laporan masyarakat. Setelah mendapatkan informasi itu, polisi menangkap pelaku saat berpraktik di sebuah mal di Jakarta Selatan pada Senin lalu (18/5) sekitar pukul 14.00. “Para korbannya berasal dari kalangan pengusaha,” ujarnya.
Selain meringkus Jenny, polisi menyita beberapa barang bukti. Di antaranya, jarum suntik, emulsion, dan vitamin E. Karena tindak pidana itu, Jenny dijerat Undang-Undang (UU) Nomor 29 Tahun 2004 dan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Praktik Kedokteran serta pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.
Seorang korban berinisial A, 34, mengungkapkan bahwa dirinya mendapat informasi soal dokter kecantikan itu dari temannya. Jenny diklaim bisa memperbesar payudara dan mempercantik diri secara cepat. “Praktiknya disuntikkan gitu. Katanya, empat hari baru ada efeknya,” katanya.
Ternyata, hasilnya tidak sebaik yang diharapkan. A malah merasakan sakit kepala. Selain itu, terjadi pembengkakan di bagian tubuhnya yang disuntik. Lantas, dia memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit.
“Ketika diperiksa dokter, saya ditanya apakah pakai narkoba. Sebab, ada pemakaian obat berbahaya,” ujarnya. Berdasar hasil pemeriksaan dokter, A didiagnosis menderita hepatitis.
Sementara itu, Jenny ternyata belum lama tinggal di Jalan Papandayan. Dia tinggal di rumah kos. Menurut Titin, penjaga kos, Jenny belum lama masuk ke rumah kos yang dijaganya. Bahkan, di rumah kos dengan sembilan kamar tersebut, Jenny menyewa dengan tarif paling murah. Sebab, Jenny tidak memakai AC. Harga sewa kamar berukuran sekitar 3 x 3 meter itu Rp 1 juta per bulan. “Kalau pakai AC, sebulan Rp 1,2 juta–Rp 1,5 juta,” terangnya.
Tempat kos itu, jelas Titin, baru direnovasi bulan lalu. Hingga kini, baru empat kamar di rumah kos bercat hijau tersebut yang terisi. Titin tidak mengetahui bahwa Jenny merupakan dokter kecantikan gadungan. Sebab, dia hanya dua kali bertemu Jenny. “Di kos, dia mah tidur doang. Biasanya pergi duhur, nanti magrib pulang,” ujarnya.
Berdasar keterangan dari warga lain, Jenny acap pindah tempat kos. Sebelumnya, dia tinggal di Jalan Kencana, lalu pindah ke tempat kos di Jalan Merbabu. Setelah itu, pelaku pindah ke Jalan Papandayan. Jenny dikenal sebagai janda. Mantan suaminya disebut-sebut warga asing asal Nigeria.(yuz/raf/co1/hud/dwi/jpnn)

Nusantara