WONOSARI– Setelah kelangkaan BBM jenis premium berhasil ditangani, kini warga Gunungkidul giliran dibuat pontang panting dengan kelangkaan gas melon atau gas elpiji tabung ukuran 3 kilogram. Dalam beberapa hari terakhir, gas melon langka di sejumlah wilayah kecamatan. Warga harus susah payah mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Sementara di tingkat pengecer mengeluh, karena pasokan dari pangkalan dikurangi.Salah seorang warga Putat, Patuk, Mardi mengaku sudah muter-muter ke sejumlah pengecer namun tak mendapatkan gas melon yang dicarinya. Dia harus pulang dengan tangan hampa, dan pasrah untuk kembali ke zaman dulu, yakni menggunakan kayu bakar. “Gas sudah menjadi kebutuhan, kalau tidak ada seperti sekarang, jadi repot,” kata Mardi kemarin (3/9).
Pengecer di Bunder, Patuk, Wastini tidak menampik bahwa sekarang gas melon sulit dicari. Konsumen datang silih berganti pada pihaknya untuk membeli. Namun karena sudah tidak ada lagi, dia hanya menjawab dengan geleng kepala. “Kiriman gas dikurangi. Biasanya saya dikirim 50 tabung, sekarang hanya 20 tabung. Dan itu habis sebelum waktunya,” kata Wastini.Hal senada disampaikan pengecer gas melon warga Sumberejo, Ngawu, Playen, Markus. Sejak seminggu terakhir, ada pengurangan. Sekarang hanya mendapat jatah sebanyak 30 tabung saja, pada hal di hari hari sbelumnya dikirim minimal 30 tabung. “Imbasnya pada konsumen, kesulitan mendapatkan gas,” kata Markus.
Sementara itu, manager pangkalan gas LPG Satria Permanajaya, Wonosari, Septi Manut Trenggono mengakui ada pengurangan kiriman gas. Namun demikian, pengurangan yang dimaksud, sebenarnya berupa normalisasi pascalebaran.
“Lebaran lalu, ada tambahan kuota 5000 tabung. Namun sekarang sudah dinormalkan seperti sediakala. Jadi, setiap hari kami hanya mendistribusikan sebanyak 2.400 tabung,” jelasnya.Septi mengakui, dalam setahun terakhir ada penambahan kuota tabung gas melon. Jika sebelumnya 2.300 tabung, sekarang bertambah menjadi 2.400 atau mengalami penambahan sebanyak 100 tabung.Dibagian lain, Kabid ESDM Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Gunungkidul, Pramuji Ruswandono mengaku tengah melakukan sejumlah persiapan jelang kenaikan harga gas LPG 12 kilogram.Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kenaikan tersebut memicu konusmen untuk migrasi ke gas melon. Bisa ditebak, kondisi tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan pasokan gas bersubsidi. “Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.(gun/jko)

Nusantara