JOGJA – Keberadaan Masjid Syuhada Kotabaru Jogjakarta tidak hanya sebagai tempat beribadah umat muslim. Tempat ini merupakan sebuah monumen saksi sejarah masyarakat Jogjakarta dalam mempertahankan kemerdekaan. Masjid ini berdiri untuk mengenang jasa para pejuang yang gugur pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.Direktur Eksekutif Yayasan Masjid dan Asrama (Yasma) Syuhada Muhamad Ansori mengungkapkan sejarahnya. Awalnya terjadi peristiwa Pertempuran Kotabaru melawan Jepang pada 6 Oktober 1945. Lalu Agresi Militer Belanda pada 19 Desember 1948 dan memperingati pertempuran Sonosewu melawan Belanda pada 14 Januari 1949.
“Ketiga pertempuran ini mengilhami berdirinya masjid Syuhada Kotabaru. Tidak sedikit pejuang yang gugur dalam ketiga pertempuran ini. Sedangkan masjid Syuhada diresmikan pada 20 September 1952 sebagai tempat ibadah sekaligus monumen,” kata Ansori kemarin (22/7).Ansori menambahkan sejarah awal nama Syuhada berdasarkan usulan salah seorang panitia pendiri, Haji Benjamin. Dimana nama ini memiliki makna orang yang gugur di medan perang atas tujuan yang mulia. Peletakan batu pertama dilakukan pada 23 September 1950 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.Selang dua tahun sejak peletakan batu pertama, tepatnya 20 September 1952, masjid ini diresmikan. Peresmian masjid ini bertepatan dengan 1 Muharram 1372. Masjid inipun memiliki nilai filosofi tinggi baik secara nasionalis maupun agama.
Ansori mengungkapkan nilai filosofi tercermin dari berbagai ornamen masjid. Pertama adalah 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapura dan empat kubah bawah serta lima kubah atas. Jika diurutkan ornamen ini membentuk tanggal kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Makna filosofi agama tercermin dari 20 jendela yang melambangkan 20 sifat Allah SWT. Di lantai dua terdapat dua tiang penyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang salat utama. “Termasuk shalat Jumat di mihrab-nya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim rukun Islam,” kata Ansori.Secara arsitektur, masjid Syuhada mengusung dan menggabungkan ragam ciri. Kubahnya, menurut Ansori, mengadaptasi bentuk bangunan yang berkembang di Persia dan India. Ciri khas ini terlihat dari kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah kecil di empat sudutnya.
Masjid berlantai tiga ini kerap digunakan sebagai pusat kegiatan umat. Selain sebagai pusat ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai tempat menimba ilmu. Di lantai dasar terdapat fasilitas pendidikan dan sebuah perpustakaan. “Sesuai tujuan awal berdirinya masjid ini juga memberi ruang bagi masyarakat. Keberadaannya diharapkan menjadi pusat segala kegiatan kemasyarakatan. Terutama dalam bidang pendidikan dan keagamaan,” kata Ansori. (dwi/ila)

Nusantara