WASHINGTON DC - Wakil Rakyat Partai Republik Lauren Boebert menyatakan tegas menolak permintaan tambahan dana perang AS-Iran senilai 200 miliar dolar AS (setara sekitar Rp3.200 triliun).
Politisi garis keras pendukung Trump ini mengecam "industrial war complex" yang terus menguras pajak rakyat Amerika.
Kongreswan Amerika Serikat dari Partai Republik, Lauren Boebert, secara terbuka menolak usulan Pentagon untuk mendapatkan tambahan dana perang sebesar 200 miliar dolar AS guna mendukung konflik berkelanjutan dengan Iran.
Dalam wawancara singkat di Capitol Hill bersama jurnalis CNN, Manu Raju, Boebert menyatakan sikap tegasnya:
“Saya sudah bilang ke pimpinan, saya NO untuk semua war supplemental. Saya muak melihat kompleks industri militer mengambil semua uang pajak rakyat Amerika yang diperoleh dengan susah payah. Kita butuh kebijakan America First sekarang juga, dan itu? Saya tidak mau lakukan hal itu.”
Pernyataan Boebert ini muncul setelah Presiden Donald Trump dilaporkan mendukung permintaan Pentagon tersebut di tengah eskalasi perang AS-Israel melawan Iran yang telah berlangsung sejak awal 2026.
Dana tambahan itu diminta untuk mengisi kembali stok amunisi dan mendukung operasi militer yang menurut beberapa laporan telah menghabiskan miliaran dolar hanya dalam beberapa hari pertama konflik.
Boebert, yang mewakili distrik di Colorado, menekankan prioritas domestik.
Ia menyebut banyak warga di daerah pemilihannya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sementara triliunan dolar terus dialirkan ke luar negeri.
“Saya punya warga Colorado yang tidak mampu hidup. Kita harus prioritaskan Amerika dulu,” tegasnya.
Pernyataan ini langsung viral di platform X (dulu Twitter) setelah diunggah oleh akun berpengaruh Jackson Hinkle, yang menyebutnya sebagai “breaking news” dengan label.
Video wawancara Boebert di parkiran Capitol mendapat puluhan ribu like dan ribuan repost dalam waktu singkat, menunjukkan adanya perpecahan di internal Partai Republik terkait kebijakan luar negeri Trump.
Beberapa pengamat politik menilai sikap Boebert ini bisa menjadi sinyal awal pemberontakan di kalangan sayap MAGA terhadap pengeluaran militer besar-besaran, terutama menjelang pemilu paruh waktu 2026. Sementara itu, pendukung garis keras Trump menyebut penolakan ini sebagai pengkhianatan terhadap agenda “America First” yang sebenarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih dan Pentagon belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Boebert. Namun, permintaan dana tambahan tersebut diyakini akan menjadi ujian berat bagi mayoritas tipis Republik di DPR. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin