RADAR JOGJA - Konflik internasional semakin memanas setelah kapal selam Amerika Serikat (AS) menenggelamkan kapal frigate Iran IRIS Dena menggunakan torpedo di perairan internasional Samudra Hindia, dekat Sri Lanka.
Insiden ini, yang dikonfirmasi langsung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, menjadi serangan torpedo pertama oleh kapal selam AS terhadap kapal musuh sejak Perang Dunia II.
Warga Yogyakarta dan Indonesia perlu waspada terhadap potensi kenaikan harga minyak akibat eskalasi ini, mengingat ketergantungan negara pada impor energi dari Timur Tengah.
Berdasarkan utas di platform X (sebelumnya Twitter) dari akun @GraceEzeal67603, berita ini pertama kali menyebar luas pada 4 Maret 2026.
Dalam thread tersebut, pengguna melaporkan: "BREAKING: US Navy submarine just torpedoed and SANK Iran's prized frigate IRIS DENA in the Indian Ocean – first underwater takedown like this since WW2! Oil prices about to explode? World War 3 vibes or just getting started? #IranWar #BreakingNews".
Pengguna tersebut juga menambahkan dalam balasan: "this has been confirmed, any one with the video??", menunjukkan antusiasme netizen atas bukti visual yang dirilis AS.
Menurut konfirmasi resmi dari Pentagon, serangan terjadi pada malam 3 Maret atau dini hari 4 Maret 2026, sekitar 40 mil laut selatan Galle, Sri Lanka.
Kapal IRIS Dena, yang merupakan frigat kelas Moudge dengan awak sekitar 180 orang, baru saja menyelesaikan latihan angkatan laut multilateral MILAN 2026 di Visakhapatnam, India, dan sedang dalam perjalanan pulang ke Iran saat diserang.
Hegseth menyebutnya sebagai "quiet death" dan menekankan bahwa ini adalah bagian dari Operation Epic Fury, perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai akhir pekan lalu.
Korban jiwa dilaporkan signifikan. Angkatan Laut Sri Lanka menemukan setidaknya 80-87 mayat, menyelamatkan 32 awak (beberapa dalam kondisi kritis), sementara 100-150 orang lainnya masih hilang.
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) masih berlangsung di lokasi kejadian.
AS bahkan merilis video dari periskop kapal selam yang menunjukkan momen torpedo menghantam kapal Iran, memperkuat klaim mereka.
Dari perspektif Indonesia, insiden ini berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak mentah terbesar di Asia Tenggara, kenaikan harga minyak bisa berdampak langsung pada inflasi di Yogyakarta dan sekitarnya. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr. Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa eskalasi konflik Iran-AS bisa mendorong harga minyak Brent naik hingga 10-15 persen dalam seminggu, membebani subsidi BBM nasional dan harga bahan pokok di pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo. "Warga Jogja harus siap dengan kemungkinan kenaikan biaya transportasi dan makanan," ujarnya.
Pemerintah Indonesia belum memberikan pernyataan resmi, tetapi Kementerian Luar Negeri diharapkan memantau situasi untuk menjaga netralitas dan keamanan jalur perdagangan maritim di Samudra Hindia. Sementara itu, utas X tersebut telah menjadi sumber diskusi hangat di media sosial, dengan ribuan pengguna membagikan kekhawatiran akan Perang Dunia III. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin