JAKARTA – Tiga pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135R Stratotanker milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) terpantau melintas di koridor Pasifik-Indonesia menuju barat pada Senin (23/2/2026).
Gerakan ini diduga bagian dari misi pengawalan (drag mission) untuk aset jarak jauh seperti bomber B-52 menuju kawasan Teluk Persia di tengah ketegangan AS-Iran.
Pemantauan lalu lintas udara melalui platform pelacakan penerbangan menunjukkan tiga unit pesawat tanker KC-135R USAF sedang bergerak westbound melalui koridor Pasifik menuju Selat Sunda dan Samudra Hindia, Senin malam (23 Februari 2026).
Akun intelijen sumber terbuka (OSINT) @Osint613 di platform X melaporkan, pola penerbangan ini konsisten dengan misi pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) untuk mendukung aset bomber strategis jarak jauh, kemungkinan besar 4 unit B-52 Stratofortress.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon, gerakan serupa sering dikaitkan dengan penguatan posisi militer AS di kawasan CENTCOM (Pusat Komando AS untuk Timur Tengah).
Beberapa pengamat di X menyebutkan rute yang dilalui tanker tersebut melewati wilayah udara Natuna, selatan Kalimantan/Sulawesi, hingga keluar menuju Samudra Hindia – kemungkinan menuju pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia.
Salah satu tanker diketahui berbalik arah di sekitar Selat Sunda, sementara yang lain melanjutkan perjalanan sebelum sinyalnya menghilang (going dark), pola yang biasa digunakan untuk menghindari pelacakan lebih lanjut.
Indonesia kembali menjadi titik transit tak langsung dalam operasi udara AS menuju Timur Tengah.
Pola serupa tercatat berulang sejak Januari-Februari 2026, seiring dengan pembentukan “air bridge” besar-besaran ke kawasan Teluk.
Puluhan tanker KC-135/KC-46, pesawat tempur F-35/F-22, serta pesawat kargo C-17 terus bergerak ke pangkalan seperti Al Udeid (Qatar) dan Prince Sultan (Arab Saudi), didukung pula kehadiran signifikan di Diego Garcia.
Gerakan ini berlangsung paralel dengan diplomasi AS-Iran yang masih berlangsung di Jenewa.
Namun analis militer menilai, penempatan tanker dan bomber menunjukkan Washington sedang mempersiapkan opsi operasional berkelanjutan – bukan sekadar demonstrasi kekuatan – jika negosiasi gagal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan RI maupun otoritas penerbangan sipil terkait pelintasan pesawat militer asing tersebut.
Ruang udara Indonesia memang sering dilintasi pesawat militer asing dengan izin diplomatic clearance atau tanpa identifikasi publik. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin