RADAR JOGJA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum melihat urgensi untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran, meski tekanan dari Israel terus menguat.
Sikap ini menegaskan perbedaan pendekatan antara AS dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Teheran dan dinamika keamanan di Timur Tengah.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dikutip media Axios menyebut Trump saat ini lebih memilih jalur diplomasi ketimbang opsi militer.
Pandangan tersebut tetap bertahan hingga kini meski ada tekanan dari sekutu dekatnya.
Pejabat militer Israel, Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Eyal Zamir, baru-baru ini berkunjung ke AS untuk memberi pengarahan kepada Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengenai situasi kawasan.
“Tidak ada hasil dari pertemuan itu yang mengubah pandangan presiden terkait serangan ke Iran. Justru Israel yang menginginkan serangan. Presiden belum sampai ke titik itu,” ujar seorang pejabat AS yang mengetahui pertemuan tersebut.
Pejabat senior AS lainnya bahkan menegaskan Trump benar-benar tidak ingin melancarkan operasi militer saat ini.
Sikap itu diamini oleh setidaknya tiga penasihat dekat Trump, yang menilai serangan terhadap Iran justru berisiko menjadi kesalahan strategis.
Salah satu penasihat menyebut banyak figur di lingkaran dalam Gedung Putih bersikap skeptis terhadap opsi perang, sementara penasihat lain memperingatkan langkah militer hanya akan merusak kebijakan regional dan internasional Amerika Serikat.
Di sisi lain, Israel memandang ancaman Iran jauh lebih mendesak.
Informasi yang dilaporkan Reuters dan media Israel menyebut Zamir bahkan melakukan perjalanan ke AS dengan jet pribadi untuk meyakinkan AS agar segera bertindak.
Sekembalinya ke Israel, Zamir dilaporkan menyampaikan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa serangan AS ke Iran berpotensi terjadi dalam kurun dua minggu hingga dua bulan ke depan.
Namun, optimisme tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas kebijakan Washington.
Trump, meski menaikkan retorika tekanan terhadap Iran, tetap membuka ruang perundingan.
Ia berharap Teheran bersedia menandatangani kesepakatan nuklir baru yang adil dan seimbang, dengan syarat pengabaian total terhadap senjata nuklir.
Dalam konteks ini, prospek negosiasi AS-Iran masih menemui jalan buntu.
Para pejabat AS mengakui Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei belum siap menerima persyaratan yang diajukan Washington.
Trump sendiri sebelumnya memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan nuklir akan membawa konsekuensi serius.
Ia menyatakan setiap serangan AS di masa depan terhadap Iran akan “jauh lebih buruk” dibandingkan operasi militer sebelumnya.
Pernyataan ini dibarengi dengan peningkatan kehadiran militer AS dan penguatan pertahanan udara di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional.
Bagi kawasan, perbedaan sikap antara AS dan Israel ini menjadi penentu arah stabilitas Timur Tengah.
Jika diplomasi gagal dan tekanan Israel semakin menguat, risiko konflik terbuka tidak hanya mengancam Iran dan AS, tetapi juga dapat menyeret negara-negara lain di kawasan ke dalam pusaran perang.
Sebaliknya, jika jalur negosiasi berhasil, hal itu berpotensi meredakan ketegangan dan menahan laju perlombaan senjata di kawasan yang sudah lama rapuh.
Situasi ini menempatkan Trump pada persimpangan krusial, antara menahan diri demi stabilitas jangka panjang, atau mengambil risiko militer dengan dampak geopolitik yang sulit diprediksi.
Bagi dunia, keputusan tersebut bukan sekadar soal AS dan Iran, melainkan masa depan keamanan Timur Tengah secara keseluruhan. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva