RADAR JOGJA – Artjog sebagai salah satu perhelatan seni rupa kontemporer tahunan terbesar di Indonesia kembali digelar di Jogja National Museum (JNM). Rencananya, gelaran ini akan dilaksanakan pada 7 Juli hingga 4 September mendatang.

Pada tahun ini, Artjog mengusung judul Expanding Awareness. Tahun ini, juga sekaligus merupakan muara dari rangkaian Artjog Arts-in-Common yang diselenggarakan sejak 2019 dalam triplet tematik ruang, waktu, dan kesadaran.

Direktur Artjog Heri Pemad menjelaskan pada tahun ini Artjog berupaya untuk mendorong perluasan kesadaran tentang inklusivitas. Semangat ini juga diwujudkan dalam rancangan festival dari perumusan konsep, pemilihan seniman, fasilitas ruang pamer dan infrastuktur fisik hingga pelaksanaan program-programnya.

“Selama masa persiapan, tim kurator Artjog dan segenap staff program banyak menimba pengalaman dan pengetahuan dari para penggerak inklusivitas di Jogjakarta. Diantaranya, kelompok Jogja Disability Arts (JDA), Sanggar Seni Komunitas Tuli Ba(WA)yang,” jelasnya saat ditemui di Artotel Suites Bianti, Kamis (30/6).

Dia menambahkan inklusivitas Artjog MMXXII juga mencakup upaya untuk melibatkan anak-anak. Diharapkan, kalangan anak tak hanya menjadi pengunjung festival, tapi juga sebagai partisipan pameran.

“Melalui mekanisme open-call, tim kurator telah menyeleksi sebanyak 14 seniman anak dan remaja yang akan menampilkan karyanya bersama seniman-seniman muda maupun profesional,” katanya.

Salah satu seniman asal Bandung Christine Ay Tjoe turut menampilkan karya terbaiknya di gelaran Artjog MMXXII. Dia menggarap sebuah instalasi yang merupakan proyek komisi khusus tahun ini. Dengan merespon tema Artjog MMXXII Arts-in Common – Expending Awareness.

Selama 20 tahun terakhir, dia dikenal melalui karya-karya yang penuh makna. Dengan memberi perhatian pada kompleksitas hidup manusia.

Karya ini dinilai menggambarkan penghargaan terhadap daya hidup atau resiliensi. Karya ini juga dirancang siap berinteraksi. Sehingga pengunjung dapat menyentuh, meraba, bahkan memeluknya.

“Kali ini saya menghadirkan sebuah karya interaktif yang terinspirasi dari wujud Tardigrada atau hewan air mikroskopis yang mampu menangguhkan metabolismenya ketika situasi lingkungan tidak memungkinkan untuk hidup,” ujarnya.

Program Manager Artjog Gading Paksi menjelaskan para partisipan pameran terdiri dari 61 seniman individu maupun kelompok. Mereka hadir dari lintas generasi. Gading menambahkan, nantinya gelaran Artjog MMXXII ini juga akan dimeriahkan dengan program weekly performance.

“Artjog MMXXII akan dibarengi dengan beberapa program pendampingnya yang khas, seperti weekly performance, young artist award, exhibition tour, meet the artist and workshop,” katanya. (*/isa/dwi)

Seni dan Budaya