RADAR JOGJA – Musisi Sri Krishna “Encik” menanggapi pemaknaan karyanya yang berjudul Celeng Dhegleng. Musik karya 2018 ini kerap dikaitkan dengan pergojalakan politik. Tepatnya terhadap sosok Ganjar Pranowo dengan partainya PDI Perjuangan.

Pria berambut gimbal ini tak mempermasalahkan persepi tersebut. Baginya, karya seni bebas dimaknai dengan apapun. Termasuk disangkutpautkan dengan gejolak politik pendukung Ganjar Pranowo.

“Seni itu multitafsir bahwa saya telah menciptakan lagu itu 3 tahun yang lalu saya rilis. Itu sekarang ditangkap dari sebuah fenomena dalam era politik ya itu terserah, saya sebagai seniman hanya melahirkan karya itu,” jelasnya ditemui di Omah Petroek Karangkletak Pakem Sleman, Jumat (19/11).

Karya seni, lanjutnya, memiliki sifat yang tidak terikat. Seiring dinamika waktu berjalan, kerap dimaknai secara berbeda. Mulai dari respon kehidupan sosial hingga mengarah pada gejolak politik.

Sejatinya karya ini adalah wujud kritik sosial. Wujud respon atas karya milik Djoko Pekik berjudul Berburu Celeng. Hingga akhirnya terespon dengan pagi berjudul Celeng Dhegleng.

“Ketika karya itu menjemput fenomena itu ya itu wallahualam bagi saya ya silakan saja. Ketika ini dipakai untuk alasan-alasan politik ya itu urusan mereka yang diranah politik. Kalau saya seperti itu sebagai seniman. Jadi monggo tafsir itu monggo, kesenian itu memang multitafsir,” katanya.

Encik menceritakan sejarah lahirnya lagu Celeng Dhegleng. Lahir tiga tahun lalu, lagu ini sebagai respon karya Djoko Pekik. Baginya karya yang berjudul Berburu Celeng memiliki makna yang mendalam.

Secara mitologi, celeng, lanjutnya, representasi dari binatang yang negatif. Lebih jauh menggambarkan perilaku manusia. Tentang keserakahan dan tidak beradab dalam kehidupan sosial.

“Simbol keserakahan manusia yang tercermin dalam binatang celeng atau babi hutan,” ujarnya.

Walau begitu, celeng bukan selamanya bermakna negatif. Dia mencontohkan celeng yang selalu jalan lurus. Menurutnya ini adalah wujud konsistensi dalam bergerak.

“Tapi sebetulnya celeng itu kalau saya tafsir, celeng itu juga binatang yang bagus karena dia jalannya lurus apa yang jalannya lurus kadang-kadang kan justru akan menabrak. Itu simbol positifnya seperti itu,” katanya. (Dwi)

Seni dan Budaya