RADAR JOGJA – Djoko Pekik menghadirkan karya terbaru berjudul Berburu Celeng Merapi. Karya yang hadir dalam kanvas berukuran besar ini menggambarkan perburuan celeng. Terlihat kerumunan orang di belakang celeng berwarna hitam lengkap dengan pemandangan Gunung Merapi.

Dalam karyanya kali ini, Pekik menggambarkan perburuan celeng sudah rampung. Ditandai dengan terbunuhnya celeng oleh tombak para pemburu. Tiga tombak tertancap pada tubuh bagian belakang celeng tersebut.

“Ya celeng itu sudah dibunuh. Tahu to celeng itu celaka, hidupnya doyan apa saja, tidak punya kenyang terus makan perusak. Celeng adalah perusak, membabi buta tidak bisa menggok, lurus kemauannya sendiri,” jelasnya ditemui di Omah Petroek Karangkletak Pakem Sleman, Jumat (19/11).

Dalam karyanya ini, Pekik merepresentasikan celeng tak bisa menjadi seorang raja. Ini karena baginya celeng adalah gambaran sosok yang lalim. Sehingga menjadi perburuan para warga.

Karya terbarunya ini sendiri merupakan permintaan dari Gabriel Possenti Sindhunata atau Romo Sindhu. Wartawan senior ini meminta Pekik menghadirkan celeng dari Gunung Merapi. Terwujud dalam perburuan oleh para warga.

“Minta celeng Merapi mbok dibunuh. Jadi Merapi enggak ada celeng, enggak ada raja celeng, aman. Ya karena celeng itu serakah membabi buta, perusak, itu tanda-tanda orang yang macam kayak gitu orang apa ya orang serakah,” katanya.

Celeng ini tak ubahnya seperti karya sebelumnya. Pekik konsisten merepresentasikan sebagai sosok yang jahat. Dia tak menampik karya ini juga menggambarkan para penguasa.

“Celeng dulu dan sekarang ya sama. Keturunannya semua ya celeng sama itu semua raja jahat, penguasa jahat semua, itu artinya,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Pekik menjelaskan tentang karyanya terdahulu, Berburu Celeng. Tidak sedikit yang merepresentasikan karya ini sebagai berburu sosok Soeharto. Ini karena seniman kelahiran Jawa Tengah 2 Januari 1937 ini pernah merasakan dinginnya penjara saat Soeharto berkuasa.

“Soal Berburu Celeng itu tidak berburu Soeharto, saya hanya menggambar berburu celeng karena rumah saya di desa pinggir hutan jati banyak celeng, banyak orang berburu celeng nah saya gambar itu. Tapi kalau representasi lain ya silakan saja,” katanya.

Lukisannya yang berjudul Berburu Celeng Merapi diserahkan ke Museum Anak Bajang. Ditempatkan di ruang pamer susu utara. Menjadi satu dengan sejumlah karya-karya seni rupa lainnya.

Pendiri Omah Petroek Romo Sindhu menuturkan sejatinya acara ini peringatan 70 tahun majalah Basis. Salah satu seremoninya adalah pemberian lukisan oleh Djoko Pekik. Untuk kemudian dipajang sebagai bagian dari Museum Anak Bajang.

“Pak Pekik memberikan lukisan itu pada kami di Museum Anak Bajang itu, lalu mau kami letakkan di sana sebagai kenangan dari Pak Pekik gitu. Kurang lebih gitu acaranya,” katanya.

Romo Sindhu meminta agar tak ada representasi politik tentang Berburu Celeng Merapi. Karya ini murni hadir sebagai keresahan seorang seniman. Menyoroti sifat keserakahan manusia.

Celeng, lanjutnya, tak hanya tidak hanya merepresentasikan satu sosok saja. Semua orang menurutnya adalah celeng. Memiliki sifat serakah layaknya seekor babi hutan.

“Kalau didangkalkan secara politik ini saya sendiri sebagai seorang wartawan tidak rela, karena apa yang kita garap dengan pak Pekik itu sebenarnya suatu refleksi mengenai nafsu manusia, mengenai kekuasaan dan penindasan dan sebagainya,” ujarnya. (Dwi)

Seni dan Budaya