RADAR JOGJA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Hari Soempah Pemoeda dengan cara yang berbeda. Berupa Pentas Musikan Mandalasana oleh Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhomardowo. Divisi kesenian dan pertunjukan dari Keraton Jogjakarta ini menyajikan 8 repertoar lagu-lagu perjuangan.

Konser diawali dengan repertoar Gati Mardowo sebagai pembuka. Menyusul kemudian Satu Nusa Satu Bangsa, Bhineka Tunggal Ika, Bangun Pemudi Pemuda, Garuda Pancasila. Adapula Tanah Airku, Dari Sabang Sampai Merauke dan Bagimu Negeri.

“Dalam peringatan Hari Soempah Pemoeda kali ini, lagu-lagu yang hadir dalam Pentas Musikan Mandalasana bertemakan kebangsaan, perjuangan dan kepemudaan,” jelas Penghageng KHP Kridhormardowo Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Notonegoro ditemui di Kagungan Dalem Bangsal Mandalasana, Kamis (28/10).

Menantu Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 ini menuturkan semangat kepemudaan di keraton sangatlah kuat. Terbukti dengan kontribusi nyata sejak era perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semangat-semangat ini tetap melekat dengan berbagai wujud.

Soempah Pemoeda, lanjutnya, adalah wujud komitmen para pemuda dari seluruh Indonesia. Tanpa memandang latar belakang kewilayahan untuk bersama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan masih berlanjut dengan terus meneladani ketiga poin Soempah Pemoeda.

“Jogjakarta ini daerah istimewa tapi komitmen dibawah negara Republik Indonesia sangat kuat. Terbuktikan dari sejarah mendukung di awal masa republik. Sekarang kami lanjutkan dengan menyajikan persemebahan seni pertunjukan harapannya  membangkitkan semangat ke-bhinekaan, persatuan dan persaudaraan sebagai bangsa Indonesia,” katanya.

Pentas Musikan Mandalasana diawali dengan iring-iringan bregada yang mengawal para abdi dalem musikan. Tepatnya dari Bangsal Kasatriyan menuju Bangsal Mandalasana. Dipimpin RW Widyogunomardowo sebagai conductor pentas musikan diawali dengan repertoar Indonesia Raya.

Pementasan serupa sejatinya sudah dimulai sejak 2019. Bertepatan dengan peringatan Hari Soempah Pemoeda. Kala itu kanca Abdi Dalem Musikan cenderung menghadirkan repertoar dengan dominasi instrumen tiup. Sementara untuk tahun ini perdana dengan instrumen gesek.

“Memang sudah rutin setiap 28 Oktober sejak 2019. Dulu itu sebetulnya musiknya itu alat tiup atau ansambel tiup mulai hari ini tambah ansambel gesek. Sejak 21 Juni kemarin luncurkan real orchestra, miliki gabungan alat musik yang lengkap, dari tiup, gesek dan perkusi,” ujarnya.

Dalam masa pandemi Covid-19, konsep konser orchestra tentu saja berbeda. Hanya bisa disaksikan secara virtual melalui akun Youtube Keraton Jogjakarta. Adapun dalam pelaksanaan di lapangan, Pentas Musikan Mandalasana menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Masih pandemi sehingga sementara memang tidak dibuka untuk pengunjung umum dulu. Saat konser prokes berjalan ketat bagi para abdi dalem yang bertugas. Jumlah pemain musik pun dibatasi agar tetap bisa menjaga jarak,” katanya. (dwi)

Seni dan Budaya