RADAR JOGJA – Seni pertunjukan internasional Asia Tri kembali berlangsung. Pertunjukan pada tahun ke-16 ini terselenggara di Omah Petroek Karangkletak, Pakem Sleman. Mengambil tema Preserving Life dan melibatkan seniman tari dari berbagai belahan dunia.

Founder Asia Tri Bambang Paningron menuturkan penyelenggarann seni pertunjukan tahun ini sangatlah berbeda. Pandemi Covid-19 membuat Asia Tri harus mengubah konsep. Dari awalnya pertunjukan panggung secara langsung menjadi karya digital.

“Asia Tri tahun 2021 ini memang agak berbeda pastinya. Mau tidak mau karena kita masih benar-benar belum bisa nyaman melakukan kegiatan seperti sebelum pandemi. Sehingga banyak hal yang harus dilakukan dengan taping rekaman,” jelasnya ditemui di Omah Petroek, Jumat (22/10).

Para seniman, lanjutnya, menghadirkan karya seperti biasa. Baik sekadar dokumentasi karya maupun konsep film tari. Tentu saja seluruh karya terekam dalam format video. Untuk selanjutnya diunggah dan ditampilkan dalam kanal Youtube milik Asia Tri.

Pemilihan tema Preserving Life memiliki alasan yang kuat. Merupakan respon atas kondisi Pandemi Covid-19. Tetap produktif dalam menjalani hidup meski akses semakin terbatas. Begitupula pada seniman dalam wujud karya.

“Teman-teman seniman itu gampang sekali sebenarnya, soal diatur itu. Tapi mereka sangat taat dengan aturan-aturan itu,karena memang pandemi tahun ini bukan main-main, ini real. Tapi kemudian kita juga tidak boleh kemudian enggak ngapa-ngapain,” katanya.

Bambang menuturkan sebanyak 21 seniman terlibat dalam Asia Tri 2021. Mulai dari seniman tari dari Indonesia sendiri, Prancis, Jepang, Taiwan hingga mahasiswa asal Ekuador yang sedang berada di Indonesia. Hadir dalam pertunjukan individu maupun kelompok.

Berlangsung selama dua hari, secara resmi Asia Tri dibuka Jumat sore (22/10). Seluruh video karya para seniman tari telah terkumpul. Untuk kemudian diputar di kanal Youtube Asia Tri hingga Sabtu (23/10).

“Dari 21 itu sebagian membuat dokumentasi pertunjukan, sebagian membuat dance film. Saya kira Asia Tri ini menjadi penting agar tetap bisa berekspresi menyalurkan kreativitas. Ini adalah ruang kontemporer yang bisa diikuti oleh siapapun,” ujarnya.

Salah seorang penari asal Bandung Lena Guslena melakukan persiapan selama sepekan. Mulai dari menentukan tema, kostum dan artistik. Lena, sapaannya, memilih melakukan perekaman video secara langsung di Omah Petruk.

Dalam Asia Tri 2021, Lena menghadirkan karya yang berjudul Selaksa Kabut Merah. Karya ini menceritakan tentang dinamika kehidupan. Munculnya percikan, kemelut, gelora dalam menyikapi keadaan saat ini.

“Sebuah napas juga untuk kita bertahan atau tidak, apalagi pada saat pandemi seperti ini. Itu semuanya akan kembali pada diri kita sendiri bagaimana menyikapi hal tersebut. Sebagai seniman saya mengekspresikan itu dalam sebuah karya,” katanya.

Lena tak menampik pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak seni. Namun bukan berarti harus berhenti dalam berkarya. Kondisi ini justru menjadi inspirasi baginya dalam berkarya. Merespon dengan sebuah olah gerak tubuh seorang penari.

“Menghadapi pandemi itu kan tidak mudah bagaimana kita mempunyai keterbatasan ruang untuk berekspresi. Kalau diluar beberapa kali sempat off air dan on air, tapi tergantung kebijakan pemerintah. Walaupun memang akan sangat berbeda dengan masa sebelum pandemi,” ujarnya.

Tak hadirnya penonton, seakan menjadi bagian yang hilang. Tidak adanya interaksi secara langsung antara seniman dan penonton. Komunikasi hanya terjalin secara tidak langsung melalui unggahan video.

“Akan tidak seekspresif dalam arti ketika berhubungan dengan audiens itu pasti ada kendala, tapi apapun bisa menyikapi itu dengan cara yang lain. Makanya kita kembali kepada diri kita sendiri bahwa segala sesuatunya itu kita hadapi santai saja,” katanya. (dwi)

Seni dan Budaya