RADAR JOGJA – Pelaksanaan Garebeg Maulid di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berlangsung sederhana. Tak ada arak-arakan prajurit hingga gunungan. Semuanya berganti dengan membagikan uba rampe rengginang kepada sekitar 2.700 abdi dalem kraton.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhomardowo KPH Notonegoro memastikan pembagian rengginang tak menghilangkan esensi Garebeg. Dia menuturkan makna garebeg tetaplah sama. Berupa pemberian sedekah oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 kepada rakyatnya.

“Esensi garebeg itu Ngarso Ndalem maringi sedekah apakah mau dirayah atau dibagi tidak ada masalah. Tapi kondisi pandemi dirayah maka jadi kerumunan massa, itu kita cegah dan sama-sama menjaga agar situasi pandemi semakin kondusif,” jelasnya ditemui di Plataran Keben Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (19/10).

Kanjeng Noto, sapaannya, menjelaskan kraton tetap mengacu pada penanggalan agama. Peringatan Maulid Nabi tetap berlangsung pada 19 Oktober 2021. Termasuk pelaksanaan garebeg dan pembagian udik-udik.

Keraton, lanjutnya, berpegang teguh pada aturan pemerintah. Khususnya terhadap Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sehingga garebeg tidak dilaksanakan secara terbuka bagi masyarakat.

“Meski (PPKM) sudah level 2, masih menjaga agar tidak ada kerumunan. Selenggarakan seperti garebeg sebelumnya, dengan dibagikan tidak dirayah,” katanya.

Pelaksanaan pembagian uba rampe rengginang berlangsung di Bangsal Srimanganti. Dibagikan kepada abdi dalem keraton, Kadipaten Pura Pakualaman dan Kantor Kepatihan Pemprov DIJ. Berlangsung dengan prosesi khas tradisi Keraton.

Untuk abdi dalem, uba rampe diberikan langsung di Bangsal Srimanganti. Sementara untuk Pakualaman dan Kepatihan diantar dengan mobil pickup. Setiap gunungan kecil rengginang dibawa oleh seorang abdi dalem.

“Dibagikan sebanyak sejumlah abdi dalem. Semua datang ke Keraton kecuali untuk Pakualaman dan Kepatihan diantar oleh abdi dalem,” ujarnya.

Sementara itu, Gamelan Sekati juga tak dibunyikan. Sehingga prosesi di Pagongan Masjid Gedhe untuk dibunyikan selama satu minggu sementara waktu tak ada. Berupa proses Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa.

“Miyos Gangsa atau keluarnya Gamelan Sekati dari keraton ke pagongan dan Kondur Gangsa kembalinya dari pagongan ke keraton ditiadakan. Sama seperti tahun lalu,” katanya.(Dwi)

Seni dan Budaya