RADAR JOGJA – Gamelan memiliki pengetahuan yang seyogyanya harus terus dirawat dan diteruskan. Berpegang pada pedoman soal besalen (rumah produksi gamelan) dan prapen (perapian untuk membuat gamelan). Kedua unsur inilah yang menjadi jantung dari proses pembuatan gamelan.

Fakta inilah yang coba diangkat dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2021. Salah satu anggota tim riset FKY 2021 Resa Setodewo mengungkapkan fakta dibalik keindahan gamelan. Tercatat saat ini ada sekitar 30-an pengrajin gamelan. Baik yang berkutat dengan gamelan kuningan maupun besi.

“Beberapa dari mereka berkumpul untuk mendirikan Paguyuban Pengrajin Gamelan Yogyakarta (PPGY) dalam rangka menyatukan visi dan misinya. Setidaknya ada 35 pengrajin gamelan telah bergabung, sekitar sepuluh di antaranya mampu menggarap gamelan perunggu,” jelasnya dalam keterangan tertulisanya.

Resa memaparkan tidak semua pengrajin gamelan dapat membuat gamelan perunggu. Ini karena untuk membuat perangkat musik tradisonal tersebut wajib memiliki besalen. Dari puluhan yang hanya dua nama, Ki Trimanto Triwiguna dan Pak Darjo.

Sayangnya kedua tokoh ini telah berpulang. Hanya saja masing-masing meninggalkan jejak dan aset budaya. Ki Trimanto Triwiguna merupakan pendiri besalen perunggu Pradangga Yasa. Sosok ini bahkan generasi terakhir empu gamelan perunggu. Khususnya yang digarap di besalen.

“Permasalahan utama adalah tak ada penerus. Sosok Pak Trimanto adalah empu terakhir besalen gamelan perunggu di Jogjakarta. Meskipun, upaya pewarisan ini tetap terjadi pada para pengrajin gamelan kuningan dan besi,” katanya. (om6/dwi)

Seni dan Budaya