RADAR JOGJA – Komunitas perupa Gorontalo “Tupalo” menggelar pameran tandang ke kota seni rupa Indonesia,  Jogjakarta. Pameran kelompok itu jadi pilot project program “Luar Peta” dari RuangDalam Art House, sebuah galeri seni rupa kontemporer di Jogjakarta.

Proses seleksi karya berlangsung ketat. Tim kurator terdiri dari I Wayan Seriyoga Parta (kurator dan pendiri Gurat Institut, pengajar seni rupa Universitas Negeri Gorontalo) dan Gusmen Heriadi (pemilik RuangDalam Art House dan seniman). Mereka memilih 17 seniman dengan ragam langgam, gagasan dan medium. Awaluddin Ahmad, aktivis kebudayaan  Gorontalo dan  salah satu motor penggerak komunitas Tupalo, ikut terlibat sebagai Co-Curator.

Ada pun  tema besar pameran  adalah “Wolo Utiye” atau “Apa itu” dalam bahasa Gorontalo. Diksi itu dipilih karena begitu dekat dengan hidup orang Gorontalo. “Wolo Utiye”  terlontar dengan nada setengah berteriak dari dalam rumah.

”Menanyakan apa ikan saja jenis ikan dalam keranjang sepeda yang dibawa penjaja ikan keliling. Pertanyaan itu akan dijawab dengan cekatan oleh sang penjaja ikan dengan ciri khas mereka masing-masing. Setiap hari, para penjaja ikan itu mengayuh sepeda mereka hingga ke pelosok. Mereka meniup Bambuwa atau cangkang kerang laut. Pemberi tanda kehadiran,” jelas Awaluddin Ahmad, Jumat (25/6).

Kini memori kolektif itu mulai pudar seiring zaman. Sepeda penjaja ikan berganti dengan sepeda motor. Teriakan “Wolo Utiye” kian jarang terdengar. Terlebih setelah penjaja ikan menjamur di seluruh pelosok Gorontalo. Membentuk pasar-pasar kaget di sudut-sudut jalan.

“Kata itu adalah tanya sederhana yang sanggup menjawab banyak hal.  Laut dan danau bukan semata soal air dan kaya kandungannya. Tapi juga  hidup nelayan dan segala mahluk  serta tanda alam yang melingkupinya,” ujar Awaluddin.

Katanya, itulah  yang diadopsi komunitas Tupalo pada program Luar Peta  perdana ini. Perupa Gorontalo tak ubahnya nelayan, pengusung kabar jika gerak seni rupa juga lahir di luar peta yang sejauh ini terbaca. Luar Peta menerjemahkan diri sebagai suara nyaring tentang karya, daya cipta, apresiasi, pengetahuan, interaksi, dan membangun jejaring.

Pameran dibuka oleh Putu Sutawijaya, seniman dan pemilik Sangkring Art Space Jogjakarta. “Semangat  teman teman dari sudut pulau Sulawesi ini, kita patut mengapresiasinya, saya berterima kasih kepada RuangDalam Art House, yang telah membawa ke Jogjakarta,  mendekatkan kepada kantong-kantong kebudayaan. Harus membangun jaringan,” ujar Putu Sutawijaya.

Tidak hanya lukisan, seniman Gorontalo juga memamerkan karya instalasi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya Halid Mustafa. Dia memajang potongan dan serpihan bangkai perahu dari Gorontalo di dinding  sepanjang 6 meter. Serpihan itu dia kumpulkan di sepanjang pesisir pantai di Gorontalo serta danau Limboto. Dia memberi judul karyanya “ Roh Laut”. (ila)

Seni dan Budaya