RADAR JOGJA – Sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianggap sebagai raja yang dekat dengan rakyat. Inilah yang tersirat dari karya-karya seni yang terpajang di Jogja Gallery.

Sebanyak 37 seniman merepresentasikan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini dalam berbagai bentuk karya seni. Mengusung tema “Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX” pameran didominasi dengan karya lukis. Mulai dari portrait hingga cerita dan kisah perjalanan sang raja. Baik masa kecil hingga kancah dalam dunia perpolitikan.

“Tahta untuk Rakyat ini untuk menggambar bagaimana sosok Ngarso Dalem Kaping IX menjadi milik rakyat dan juga bangsa Indonesia. Sosok yang dilahirkan sebagai putra raja lalu kemudian akhirnya menjadi raja,” jelas Ketua Pameran Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Indro Kimpling Suseno ditemui di Jogja Gallery, Rabu (17/3).

Walau ditakdirkan sebagai raja, sosok HB IX, lanjutnya, tak terkekang kekakuan monarki. Terbukti dengan sikap yang sederhana dan merakyat selama sebelum hingga menjadi Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedekatan dengan rakyat membuat sosok ini dekat di hati masyarakatnya.

Tak hanya itu, HB IX memiliki berbagai keahlian, seperti ahli dalam bidang olahraga, Pramuka, fotografi, kemiliteran hingga politik. HB IX juga sempat menjadi Wakil Presiden RI dari 1973 hingga 1978.

“Paling pribadi adalah nilai kerakyatan, sangat membela dan berpihak pada rakyat kecil. Memiliki nasionalisme tinggi, bagaimana membantu kemerdekaan Indonesia. Menerima Presiden kala itu Ir Soekarno dan pemindahan ibu kota negara dengan penuh risiko,” katanya.

Nilai-nilai inilah yang coba diimplementasikan oleh para seniman. Setiap seniman diberikan narasi tentang kisah perjalanan HB IX. Untuk kemudian dituangkan menjadi sebuah karya seni.

Tercatat ada 37 seniman yang terlibat dalam pameran ini. Terdiri dari seniman lintas usia dan denhan latar belakang yang berbeda. Bahkan beberapa diantaranya bukan berasal dari Jogjakarta.

“Secara resmi pameran dibuka untuk umum dari 20 Maret hingga 25 April. Semua karya yang hadir merangkum otobiografi sosok HB IX sesuai representasi setiap seniman,” ujarnya.

Dasar dari pameran ini adalah buku bertajuk Tahta untuk Rakyat. Narasi yang diberikan ke seniman disusun oleh Sejarawan dari UGM Sri Margana. Terdiri dari kelahiran bayi mungil bernama G.R.M Dorodjatun, masa kanak-kanak, remaja hingga merantau ke Eropa.

Dalam fase lanjutan juga menghadirkan sosok HB IX saat menerima estafet kepemimpinan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Memasuki masa perjuangan diplomasi dan revolusi kemerdekaan Indonesia. Berlanjut saat menjadi bagian dalam pemerintahan Orde Baru, hingga HB IX mangkat pada 2 Oktober 1988.

“Setiap pelukis mendapatkan satu narasi, dengan tetap memberikan keleluasaan tafsir atas narasi historis tersebut, tentu dalam batas-batas kewajaran dan kepatutan. Tapi tetap berproses melalui riset mendalam, mengumpulkan informasi dan data sebanyak mungkin,” kata Kurator Pameran Suwarno Wisetrotomo.

Narasi yang hadir, lanjutnya, memiliki alur cerita yang sama. Walau hadir dengan corak yang berbeda namun tetap ada benang merah. Ini karena seluruhnya merupakan cerminan otobiografi seorang HB IX.

Dalam menghadirkan karya, Suwarno tidak terlalu membatasi ide kreatif seniman. Seluruhnya dibebaskan memiliki intepretasi yang berbeda. Bahkan sosok HB IX tidak perlu dihadirkan dalam wujud lukisan portrait.

“Seniman yang dipilih dianggap bisa menerjemahkan narasi yang diberikan. Jadi para seniman ini memang bekerja dengan dipandu oleh narasi,” ujarnya.

Beberapa karya hadir dalam wujud metafora. Seperti karya yang dihadirkan oleh Nano Warsono dalam karya berjudul “Ledakan Petir di Siang Bolong dan “Wafatnya Sang Raja”. Lukisan ini menggambarkan wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan lahirnya sosok pemimpin yang baru. (dwi/ila)

Seni dan Budaya