RADAR JOGJA- Menandai 25 tahun berkarya, perupa Dedy Sufriadi mengadakan pameran tunggal bertajuk ‘Superficial Readers’ di Jogja Gallery, 16 Desember hingga 15 Januari 2021.

Pameran tunggal ke-18 perupa Alumnus ISI jogja ini terbilang sepaktakuler. Ia mengumpulkan sebanyak 5 ton buku, disusun menjadi sebuah intalasi yang out of the box. Di halaman depan diletakkan sebuah kotak seukuran mobil yang disusun dari buku. Di ruang utara sebuah TV Plasma dibentuk layaknya terkoyak separuh bersama buku-buku. Sedangkan di ruang utama, Dedy menata berton buku diatas panggung dan memberikan sentuhan instalasi layaknya hujan turun dan menjadi kolam buku.

Menurut Dedy, ini adalah upaya bentuk protes dirinya terhada era digital saat ini. “Era digital tidak ada jaminan membuat pembaca menjadi lebih kritis, tapi malah membentuk barisan pembaca yang dangkal (superficial). Teks tidak lebih dari sekedar media permainan. Siapa pun bisa membentuk ruang bermain dengan aturan mainnya sendiri,” ujar Dedy, Rabu(16/12) .

Keberadaan teks dan simbologi dalam komposisi ekspresionis abstrak yang rumit, memanfaatkan kutipan sastra, narasi, dan simbol berlapis untuk menggantikan apa yang biasanya menjadi permainan warna dan garis.

Komisaris Jogja Gallery Indro Kimpling sangat bangga dengan kreasi dari Dedy Sufriadi. Tetap produktif di masa pandemi. “Karyanya out of the box. Diluar nalar. Semoga energi ini menjadi pelecut semangat para seniman lain, terkhusus para seniman muda. Terlepas dari gaya tertentu yang disajikan, karya Dedy bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri, dan pada akhirnya tentang dunia di sekitar kita,” ujar Indro Kimpling.

Sedangkan kolektor kawakan asal Magelang, Oei Hong Djien (OHD) mengaku ini karya yang sangat Dedy Sufriadi. Idenya liar dan sarat pesan. “Gayanya mewujudkan konsep hypertext dari dunia teknologi informasi. Dia lalu mengajak penonton untuk mengasumsikan sendiri sendiri dari citra visual yang disajikan. Mayoritas karya-karyanya selalu konseptual,” terang OHD.

Pameran tunggal tersebut diisi dengan performing art lima penari yang dikomandoi Jujuk Prabowo, dengan iringan musik cello dari Jimi Kimosabe (sky)

Seni dan Budaya