RADAR JOGJA – Biennale Jogja XVI Equator #6 akan diselenggarakan pada 2021 dengan mengambil pendekatan berbeda. Ini untuk menandai satu putaran penuh garis khatulistiwa yang menjadi kerangka kerja yang telah dipilih oleh Yayasan Biennale Jogjakarta sejak 2010.

”Pada Biennale Jogja XVI Equator #6 ini, kami akan menyajikan pula satu bentuk retrospeksi atas kerja-kerja Yayasan Biennale Jogjakarta sendiri selama Biennale Jogja seri equator yang telah berlangsung pada periode waktu sebelumnya,” jelas Direktur Yayasan Biennale Jogjakarta Alia Swastika dalam pers rilisnya, Kamis (19/11).

Dia menjelaskan, untuk menutup rangkaian khatulistiwa putaran pertama, pihaknya akan bekerja sama dengan salah satu negara di Kawasan Pasifik. Kepastian negara masih terus digodok untuk menimbang banyak situasi, termasuk bagaimana pandemi ini berpengaruh pada mobilitas dan gagasan pertukaran internasional. ”Kawasan Pasifik terutama secara khusus berhubungan dengan wilayah kepulauan di Indonesia, dan secara geografis Indonesia Timur juga akan menjadi titik perhatian kami,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Alia Swastika juga menjelaskan bagaimana kerja sama Kawasan Pasifik juga akan merujuk pada wacana-wacana kolonialisme baru dan gagasan negara bangsa pada masyarakat kontemporer. Sebab, ada banyak negara di Kawasan tersebut yang ternyata masih menjadi bagian kekuasaan negara Eropa, misalnya Perancis, Amerika Serikat dan sebagainya.

Yang menarik, selain menjadikan Pasifik sebagai Kawasan Mitra, Biennale Jogja juga akan menghadirkan kembali arsip dan dokumentasi selama penyelenggaraan Biennale Jogja seri khatulistiwa 1-5. Biennale Jogja telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti India, Kawasan Arab (Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirates Arab), Nigeria, Brazil dan Kawasan Asia Tenggara.

”Diharapkan, dengan membawa kembali arsip-arsip dan melakukan pembacaan ulang, maka pengunjung dan semua warga bisa melihat secara utuh gagasan khatulistiwa sebagai geopolitik yang digagas di Yayasan Biennale Jogjakarta,” tuturnya.

Selain itu, dalam pertemuan dengan media kali ini, Alia juga memperkenalkan Direktur Biennale Jogja yang baru yaitu Gintani Nur Apresia Swastika. Gintani akan menjadi direktur bagi penyelenggaraan dua peristiwa seni ini pada 2021 dan 2023.

”Biennale Jogja selalu berupaya untuk melakukan regenerasi sehingga ada orang dan gagasan baru yang dimunculkan dalam moda kepemimpinan dan manajemen seni. Apalagi, dalam seri khatulistiwa setiap edisi Biennale ini memilih satu Kawasan baru, sehingga selalu perlu pendekatan baru karena setiap negara atau Kawasan situasinya berbeda,” ungkapnya. (ila)

Seni dan Budaya