RADAR JOGJA – Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) menggelar jumpa pers Kongres Berkebaya Nasional (KBN) pada Selasa (10/11). Jumpa pers yang digelar secara daring ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Indonesia, namun juga luar negeri.

jelas Ketua Panitia Kongres Berkebaya Nasional Lana T. Koentjoro menjelaskan, Kongres Berkebaya Nasional mengangkat tema ”Pengukuhan Kebaya Sebagai Jati Diri Bangsa”. Kebaya sebagai busana Nasional Indonesia merupakan warisan para leluhur. Sejak dahulu kebaya dipakai oleh banyak perempuan Indonesia yang tersebar di banyak daerah di seluruh Indonesia. Kebaya mengandung filosofi mendalam dengan nilai sejarah yang tinggi.

Tujuan Kongres Berkebaya Nasional ini pertama adalah untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya khususnya busana tradisional Indonesia. Dengan cara melalui pengenalan dan ajakan menggunakan kebaya kepada generasi muda.

”Tujuan berikutnya adalah untuk mendapatkan pengakuan dunia (UNESCO), dengan cara mendaftarkan kebaya sebagai warisan tak benda asal Indonesia. Terakhir kita ingin mendorong pemerintah untuk menetapkan Hari Berkebaya Nasional sehingga tahap berikutnya dapat merancang program pemberdayaan masyarakat melalui produksi dan pemasaran Kebaya,” tuturnya.

Acara ini rencananya diselenggarakan pada 21-22 Desember 2020 secara daring dan akan dihadiri oleh para tokoh politik, sosial, profesi, akademis atau pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk mendiskusikan. Serta mengambil keputusan tentang perlestarian kebaya sebagai elemen budaya Indonesia. Adapun serangkaian acaranya diantara lain grand opening Kongres Berkebaya Nasional, pertunjukan seni dan dari anggota PBI seluruh Indonesia, diskusi tentang kebaya, fashion show kebaya oleh Puteri Indonesia, dan terakhir pemberian penghargaan berkebaya.

Sedangkan Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia Rahmi Hidayati menyebutkan ia sangat mengharapkan gerakan berkebaya ini mendapat dukungan dari pemerintah. Saat ini PBI sudah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia yakni PBI Sumatera Barat, PBI Ambarawa, PBI Jogja, PBI Semarang, dan PBI Bali.

”Gerakan ini ingin menunjukan betapa cintanya kami kepada kebaya sebagai warisan bangsa. Kami berharap gerakan ini mendapat dukungan pemerintah. Ini merupakan gerakan untuk memperkenalkan kebaya kepada anak muda dan mancanegara,” ucapnya.

Selain itu Rahmi Hidayati menambahkan kebaya dapat dipakai sehari-hari namun harus memperhatikan cara memakai kebayanya. Sedangkan untuk penggunaan kebaya pada acara formal harus memperhatikan pakem berkebaya dan modifikasinya. Acara ini juga dihadiri oleh Deputi Bidang Kebudayaan Kementrian Koordinator Bidang Pembagunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Nyoman Shuida. Menurutnya acara ini selaras dengan salah satu tujuan Kemenko PMK tentang revolusi mental dan pemajuan kebudayaan. (om1/ila)

Seni dan Budaya