RADAR JOGJA –  Setelah merilis single pertama ‘THR’ (Tentang Hati Resah) 2017, kemudian single kedua ‘SMP’ (Satu Merah Putih) 17 Agustus 2018, serta single ketiga ‘Menari Ja’i’ dan single keempat ‘Kota Kupang’ pada 2019, Paralakon kembali merilis single kelima ‘HTM’ (Hidup Tapi Mati), Sabtu ( 13/6).

Paralakon adalah wadah kolaborasi audio dan visual terdiri DP Getso (penulis lirik dan vokalis), Ardie Boy (arranger), Jati Biru (sound engineer, drummer), dan Inner Pixel (artisan audio visual).

Lagu ‘HTM’ (Hidup Tapi Mati) bertema alam. “Ini adalah kegelisahan dari apa yang terjadi di sekitar kita, di mana banyak sekali sampah dalam arti yang sebenarnya yang membuat alam semakin kotor dengan polusi, menjadi beban bagi lingkungan hidup yang semakin serius dampaknya,” kata DP Getso selaku penulis lirik dan vokalis.

Semua tidak pernah sadar sampah-sampah itu mengancam kehidupan. Bahkan para politisi, pejabat dan siapapun yang seharusnya punya peran, jarang ada yang peduli terhadap ancaman sampah-sampah yang semakin menumpuk itu. “Semua hanya peduli dengan kepentingan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tak ada lagi nurani yang peduli, seolah kita hidup tapi sebenarnya mati,” kata Getso.

Seburuk apa perlakuan manusia kepada alam, menurut Getso, paling mudah adalah dengan melihat apa yang terjadi di alam dan berdampak langsung kepada manusia. Seharusnya alam menghidupi, namun saat ini alam tidak semudah dulu menghidupi, sumber-sumber air banyak yang kering, dunia semakin panas, bencana semakin banyak. Apabila manusia di posisi alam, kita akan merasakan hal yang sama bahwa keberadaan manusia yang tidak merawat kehidupan, manusia adalah bencana bagi alam.

Karya Paralakon ini digarap secara cepat. Mereka sangat terbantu dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Bahkan jarak dan waktu sama sekali bukan halangan untuk menghasilkan karya melalui kolaborasi ini, diskusi melalui online chat, sharing progress file sampai video call. “Sehingga dalam waktu relatif singkat berhasil menyelesaikan karya kolaborasi ini,” katanya.

Getso mengakui, Paralakon terinspirasi banyak karya dari para YouTuber. Namun sebaliknya, Getso berharap karya Paralakon menginspirasi lebih banyak pelaku kreatif untuk menghasilkan karya yang diunggah di YouTube. “Teknologi telah membuka ruang bagi lebih banyak pelaku kreatif untuk menghasilkan karya,” katanya.

Artisan audio visual, Inner Pixel mengatakan, video HTM dikemas dengan teknik double exposure agar impresinya sampai pada penonton. “Prosesnya sekitar tiga minggu, karena pengerjaannya banyak di komputer, sedangkan pengambilan gambar terhitung tiga hari,” jelasnya.

Menurut Inner Pixel, video dalam sebuah karya musik itu menambah sudut pandang yang lain tentang lirik yang ada pada lagu. Artinya, tidak semua visual mengikuti lirik lagu tapi ada interpretasi mengenai lirik, sehingga akan memperkaya sebuah lagu. “Audio dan visual itu memiliki impresi dan kedalaman yang berbeda. Tidak semua visual menjadi verbal pada video HTM, banyak metafora dan simbol ditampilkan agar menjadi suatu produk yang layak,” katanya. (*/din)

Seni dan Budaya