RADAR JOGJA – Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman kembali berpartisipasi dalam Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII. Dalam ajang yang akan berlangsung di Istana Kedatuan Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan, menampilkan masing-masing satu tarian klasik. Beksan Floret oleh Kadipaten Pakualaman dan Beksan Lawung Ageng oleh Keraton Jogjakarta.

Bukan tanpa alasan pemilihan kedua beksan klasik ini. Beksan Lawung Ageng merupakan karya Sri Sultan Hamengku Buwono I. Berupa adu ketangkasan prajurit bertombak. Dalam FKN XIII, tarian ini akan dibawakan oleh 36 penari.

“Untuk beksan yang ditampilkan memiliki tema keprajuritan. Tema ini dipilih sesuai penyelenggaraan sekaten tahun ini. Khususnya mengulas tentang profil, peran dan karya Sri Sultan HB I,” jelas Penghageng KHP Kridhomardowo Karaton Jogjakarta KPH Notonegoro, Rabu (4/9).

Lebih jauh tentang tarian klasik ini memiliki makna yang apik. Tercipta karena terinspirasi dari latihan ketangkasan prajurit bertombak atau watangan. Tak cukup sampai di sini, dalam masanya watangan dilakukan sambil berkuda.

Setiap gerakannya memiliki pesan yang kuat. Notonegoro menuturkan ada pesan dan unsur heroik. Ada pula kesan patriotik dan berkarakter maskulin dengan pola gerak gagah. Itulah mengapa seluruh penarinya kakung atau pria. “Sarat dengan semangat keprajuritan. Itulah kenapa dalam FKN tahun ini, keraton memilih Beksan Lawung Ageng,”  katanya.

Selain menampilkan Beksan Lawung Ageng, ada pula parade prajurit milik keraton. Di samping itu juga menyajikan beberapa pusakan dan koleksi milik Keraton Jogjakarta. Seluruhnya tersaji dalam penyelenggaraan FKN XIII dari 7-12 September.

“Ada juga peragaan busana seluruh prajurit milik keraton. Kalau untuk pameran selain benda pusaka fisik juga hadir dalam digitak flipbook. Isinya tentang profil prajurit dan keraton,” ujarnya.

Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Pakualaman Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo berharap FKN menjadi ajang  silaturahmi nusantara. Ini karena seluruh partisipannya adalah kerajaan yang berada di Indonesia. Setiap kerajaan memiliki peran penting dalam merajut NKRI.

Kanjeng Indro, sapaannya,  menuturkan peran kerajaan musantara terhadap NKRI sangatlah besar. Terbukti beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo mengundang penggawa seluruh kerajaan nusantara. Khususnya yang tergabung dalam Majelis Adat Kraton Nusantara.

“Setiap kerajaan memiliki peran penting, bahkan bisa dibilang menjadi cikal bakal NKRI saat ini. Tentunya eksistensi keraton ini memiliki peran penting dalam diplomasi budaya,” katanya.

Untuk FKN XIII, Kadipaten Pakualaman mengusung karya Beksan Floret. Ditarikan oleh delapan penari kakung dengan properti pedang floret. Karya ini mengadaptasi salah satu cabang olahraga yaitu anggar.

“Kami juga akan menghadirkan sejumlah pusaka, tapi dalam bentuk foto dan narasi. Pertimbangannya risiko faktor usia jika pusaka harus dibawa perjalanan jauh,” ujar putra KGPAA Paku Alam VIII ini.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Aris Eko Nugroho mengungkapkan, keikutsertaan ini rutin. Semakin diperkuat dengan amanah Perdais Nomor 3 Tahun 2017. Salah satu objek kebudayaan adalah tradisi luhur. Inilah yang dimiliki Kadipaten Pakualaman dan Keraton Jogja.

Terkait pendanaan, keikutsertaan FKN XIII memanfaatkan dana keistimewaan. Untuk memberangkatkan 181 delegasi budaya menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar. Terdiri atas 84 delegasi Keraton, 65 delegasi Kadipaten dan 32 orang perwakilan Dinas Kebudayaan DIJ.

“Untuk persiapan sudah mencapai 90 persen. Lalu ada yang beda untuk tahun ini, karena diawali dengan parade prajurit,” jelasnya. (dwi/laz)

Seni dan Budaya