JOGJA – Permainan gejog lesung oleh abdi dalem keparak mengawali proses tumplak wajib gunungan. Delapan abdi dalem perempuan memainkan lesung secara berirama. Alunan musik kayu ini juga menjadi pertanda salah seorang putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Condrokirono, telah tiba di Magangan, Keraton Jogja.

Prosesi dilanjut dengan berdoa yang dipimpin abdi dalem kaji. Selanjutnya abdi dalem konco abang memapah wajik menuju kerangka gunungan puteri. Berlanjut dengan pengolesan dinglo bengle oleh abdi dalem perempuan.

“Tumplak wajik ini merupakan serangkaian upacara Garebeg Syawal. Berupa pembuatan gunungan dari hasil bumi. Puncaknya adalah keluarnya gunungan dari Keraton, 5 Juni,” jelas GKR Condrokirono, Minggu (2/6).

Selama proses pembuatan gunungan, gejog lesung tidak berhenti. Prosesi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terbukti puluhan warga sudah memadati kawasan Magangan sejak sore hari.

Setelah prosesi selesai, para abdi dalem kemudian mengoleskan dlingo bengle. Berupa parutan empon-empon berwarna kuning. Warga yang berada di luar banyak yang meminta agar bisa mendapatkan ramuan ini. Warga mempercayai ramuan tradisional ini memberi berkah tersendiri.

Sama seperti tahun sebelumnya, Garebeg Syawal menyajikan empat jenis gunungan. Terdiri atas gunungan kakung, gunungan puteri, gunungen gepak dan gunungan pawon. Mendekati pelaksanaan garebeg, seluruh gunungan akan dibawa masuk ke dalam Keraton.

“Saat garebeg tiba, gunungan akan dibawa ke Masjid Gede Kauman untuk didoakan. Lalu ada yang dibagi ke masjid, kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman. Sebagai wujud rasa syukur dan pemberian raja  kepada warganya,” ujarnya.

Ada yang berbeda dari penyelenggaraan tumplak wajik kali ini. Penabuh gejog lesung bukan lagi abdi dalem konco abang. Seluruhnya digantikan abdi dalem keparak. Mereka adalah abdi perempuan yang rata-rata telah berusia sepuh.

Salah seorang abdi dalem keparak Among Hadi Hasrono mengungkapkan, perubahan untuk mengembalikan sejarah awal. Di mana pada era dahulu penabuh gejog lesung memang abdi dalem perempuan.

“Dulu itu abdi dalem putri, lalu jadi abdi dalem konco abang, sekarang dikembalikan lagi. Penabuhnya ada delapan. Ini pertama kali nabuh abdi dalem keparak nabuh lagi. Lancar, meski persiapan satu kali latihan,” ujar perempuan berusia 61 tahun ini. (dwi/laz)

Seni dan Budaya