Ribuan penonton menyaksikan Mantra #2019

JOGJA – Asap dupa menyelimuti Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Senin (26/3) malam. Aromanya yang khas makin menguatkan nuansa sakral pementasan Mantra #2019. Tak satu pun kursi penonton tidak terisi dalam gelaran teater persembahan Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib itu. Bahkan tak sedikit penonton harus berdiri lantaran tak kebagian kursi.

Penyair Purwadmadi membukanya dengan prolog Mantra #2019 karya Joko Santosa. Alunan musik mantra yang dipadu gemulainya para penari berhasil menyihir mata para penonton. Aksi jenaka penari anak-anak pun mampu mengundang tawa. Salah seorang yang paling kecil mencuri perhatian dan tawa penonton karena tingkahnya. Di tengah pertunjukan giliran pelawak Sugeng Iwak Bandeng dan Dalijo Angkring bercerita tentang mantra lewat guyonan khas mereka yang njawani.

GRAPYAK: Budayawan Emha Ainun Najib berdialog dengan penonton usai pementasan teater Mantra #2019

Mantra #2019 menggambarkan kondisi politik Indonesia 2019 mendatang. Kendati demikian, tak ada nuansa politik yang mencolok dalam pertunjukan itu. Semua unsur disimbolkan dalam tari-tarian dan musik. Hanya, tersirat adanya keinginan agar negeri ini kembali Berjaya. Khususnya di sektor perekonomian. Seperti pada masa Kerajaan Majapahit. “Saya sangat menikmati pertunjukan ini,” ungkap Albertus, salah seorang penonton.

Sang Sutradara, Puntung CM, mengatakan, meski banyak penonton tidak paham maksud dari mantra ini, toh bisa menjadi pertunjukan menarik.

Pertunjukan ditutup monolog Joko Kamto, dengan merangkum makna-makna mantra. Di akhir acara ada public review yang didampingi para supervisor acara, yakni Emha Ainun Nadjib, Aprinus Salam, dan Suminto.

“Mantra itu dulunya pencarian sumber hidup manusia. Ada sebelum agama Samawi,” jelas Emha. “Kalau sekarang ya kita berdoa dan minta kepada Tuhan. Harus percaya takdir yang kita nggak tahu seperti apa. Jadi minimal sering-sering menyapa Tuhan,” pesan budayawan Jogja itu.

Mantra #2019 bertajuk “Nawa Praja Sirna Panembah” merupakan pagelaran keempat dari mantra-mantra karya Joko Santosa sebelumnya. “Saya terharu dengan kerja keras teman-teman artistik dan produksi. Semua all out dan hasilnya penonton meluap. Ini hangat guyub antarpekerja seni,” ucapnya. (cr3/yog/mg1)

Seni dan Budaya