TAMU KEHORMATAN

BANTUL – Recycle Fashion Carnival (RFC) 2018 yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul sekaligus didukung Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ berlangsung meriah Sabtu (17/3).

Saking meriahnya, Jalan Ir H Juanda yang terletak persis di depan rumah dinas bupati Bantul berubah fungsi menjadi arena catwalk. Satu per satu peserta memamerkan kostum kreasinya bak model profesional. Menariknya lagi, kostum kreasi seperti gaun yang diperagakan sekitar 600 peserta ini bukan dari bahan konvensional. Melainkan daur ulang berbagai jenis sampah.

CANTIK

Kepala DLH Bantul Masharun Ghazali mengungkapkan, RFC 2018 merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 tingkat kabupaten. RFC ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa sampah bukan bencana. Berbagai jenis sampah dapat menjadi berkah bila dikelola dengan baik.

“Ini menjadi pencerahan kepada masyarakat bahwa sampah jangan dianggap sebagai bencana,” tegas Masharun di sela RFC 2018.

RFC 2018 mengambil start di Lapangan Trirenggo. Kemudian, sekitar 600 peserta ini berjalan menuju Lapangan Paseban. Bekas kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Nonformal Bantul ini mengaku kaget dengan tingginya antusiasme para peserta. Sebab, para peserta tidak hanya melibatkan orang dewasa. Melainkan juga anak-anak dari berbagai sekolah di Kabupaten Bantul. Mulai pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.

CERIA

“Pesertanya komplet. Mulai bank sampah, jaringan pengelola sampah mandiri (JPSM) hingga seluruh sekolah se-Bantul,” ucapnya semringah.

Dikatakan, DLH tidak sendirian menggagas RFC 2018. DLH juga menggandeng sejumlah stakeholder. Antara lain, JPSM Amor, Duta Wisata, Dinas Pariwisata Bantul dan Corporate Social Responsibility PLN Peduli. Keterlibatan banyak pihak ini bertujuan agar gaung penanganan sampah melalui daur ulang di Bumi Projo Tamansari sampai ke telinga masyarakat.

UNIK

Menurutnya, penanganan sampah bukan perkara gampang. Pemkab tidak akan sanggup menangani sendirian. Mengingat, personel hingga armada pengangkut sampah yang dimiliki DLH sangat terbatas. Padahal, mengacu model penghitungan versi nasional jumlah sampah yang dihasilkan Kabupaten Bantul saat ini mencapai 600 ton per hari.

“Ini rumusnya 0,7 dikalikan jumlah penduduk,” ujarnya.

Atas dasar itu, Masharun mengajak masyarakat ikut berperan dalam penanganan sampah. Salah satu caranya dengan mendaur ulang sampah menjadi hasta karya bernilai ekonomi. Toh, tidak sedikit jenis sampah yang bisa disulap menjadi pernak-pernik aksesori.

“Juga bisa menjadi gaun, baju, hingga songkok,” tuturnya.

Dengan keberhasilan RFC 2018, Masharun bercita-cita agenda serupa digelar kembali tahun depan. Bahkan, dengan cakupan yang lebih luas. Para peserta tidak hanya dari

ARTISTIK

wilayah Kabupaten Bantul. Melainkan seluruh DIJ. “Dengan bantuan BLH DIJ nanti bisa terwujud,” katanya.

Masharun optimistis fashion show produk daur ulang sampah bakal menjadi magnet tersendiri. Terbuka kemungkinan bisa menjadi destinasi wisata. Itu mengacu keberhasilan beberapa daerah di Jawa Timur yang memiliki agenda serupa seperti Banyuwangi. “Wisatanya jalan. Nama daerahnya juga harum,” tambahnya.

Atas dasar itu pula, pejabat yang tinggal di Banguntapan ini meyakini program Kampanye Bebas Sampah 2019 bakal tercapai. “Semoga tahun ini kami bisa merebut

SABER SAMPAH

kembali Piala Adipura,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Bantul Suharsono apresiatif dengan RFC 2018. Dia memuji fashion show daur ulang sampah dalam RFC 2018 berbeda dengan agenda serupa pada umumnya. “Ini ide yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Mengandung nilai edukasi pula,” pujinya.

Suharsono juga melihat RFC 2018 merupakan salah satu bentuk dukungan nyata masyarakat terhadap penanganan sampah. Terutama JPSM. Tanpa sentuhan JPSM

BAGI BUNGA

penanganan sampah di Kabupaten Bantul bakal semakin pelik. Oleh karena itu, Suharsono optimistis kerja sama pemkab dan JPSM bakal mewujudkan Kabupaten Bantul Bebas Sampah 2019.

“Tapi tak sekadar Bantul bebas sampah. Komitmen ini juga harus menjadi budaya,” tambahnya. (*/zam/ila/mg1)

Seni dan Budaya