SELAIN menggelar even berlatar belakang novel karya Pramoedya Ananta Toer, komunitas ini juga melakukan diskusi dan persiapan pameran untuk tokoh kedua. Sosok yang mereka definisikan juga pemula pergerakan yakni Tan Malaka.Ya, diskusi ini sudah berjalan dua bulan dengan materi yang hampir sama tentang Tirto Adhi Suryo. Mereka banyak menguak tentang sisi-sisi kehidupan Tan Malaka yang tak banyak diketahui orang. “Masih ada tokoh-tokoh lain yang akan kita bahas setelah Tirto Adhi Suryo dan Tan Malaka. Kita ingin ini menjadi project panjang untuk mengajak orang-orang agar tidak melupakan sejarah,” ujarnya.
Salah satu pegiat Rangka Tulang lainnya, Vina berharap anak-anak muda Indonesia tidak begitu saja melupakan sejarah bangsanya sendiri. Walaupun sudah terlalu banyak kebudayaan-kebudayaan luar masuk ke Indonesia. Selain itu, ia menjelaskan, terkadang sejarah menjadi hal yang membosankan bagi anak muda. Ia berharap melalui kegiatan yang dilakukan komunitas ini mampu membangkitkan lagi minat anak muda untuk mempelajari lebih dalam sejarah bangsanya sendiri. “Secara tidak langsung kita juga ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak melulu membosankan apabila dikemas dengan cara yang menarik. Seni adalah salah satu pilihan kita untuk bercerita sejarah,” kata Vina. (fid/ila)

Seni dan Budaya