RADAR JOGJA, KLATEN – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tak pernah setengah-setengah memberikan dukungannya kepada UMKM. UMKM kain lurik di Klaten misalnya. Dengan memakai nama Ganjar untuk produknya, UMKM itu pun kian moncer. Bahkan, pemasaran produk kain Lurik Ganjar kini tembus sampai luar negeri.

Ada cerita unik dari pemberian nama kain Lurik Ganjar. Owner Lurik Rahmad, Lissa Ratna Dewi Wijayanti menceritakan usaha yang berdiri sejak 1953 itu awalnya memiliki produk kain lurik geretan. Dinamakan geretan karena proses produksinya yan digeret-geret atau ditarik-tarik. 

“Pertama kami buat inovasi kain lurik geretan, karena pembuatannya yang masih pakai alat tenun bukan mesin (ATBM) ditambah alat khusus dengan cara ditarik-tarik. Makanya, kami namakan lurik geretan,” jelas Lissa saat ditemui di tempat produksinya di Desa Kwarasan Beji RT 2 RW 1, Pedan, Kabupaten Klaten, Rabu (14/12).

Produk kain geretan yang merupakan inovasi dari Lurik Rahmad itu kemudian dipasarkan lewat media sosial (medsos). Hingga akhirnya Ganjar mengetahui produk tersebut.

Tak tanggung-tanggung, Gubernur Jateng itu pun langsung memesan kain Lurik Ganjar dengan jumlah cukup banyak. Kain itu kemudian dijahit menjadi baju, dan dikenakan Ganjar di berbagai acara penting.

“Pak Ganjar beli lurik itu lewat online sekitar 13 potong, per potong dua pieces. Setelah sampai ke bapak (Ganjar,Red) dan dijahit jadi baju, dan dipakai acara-acara penting bapak untuk menemui tamu-tamu,” paparnya.

Dari situlah Lissa terinspirasi mengubah kain geretan menjadi kain Lurik Ganjar. Namun, tentu tak langsung memakai nama. Lissa kemudian memberanikan diri meminta izin langsung ke Ganjar. Izin itu dia sampaikan lewat direct message (DM) di akun medsos Ganjar.

Gayung bersambut, tak perlu lama-lama Ganjar langsung membalas sekaligus memberi restu untuk memakai namanya di produk kain lurik.

“Saya minta izin, pak boleh ndak ya kain geretan yang bapak beli saya kasih nama Lurik Ganjar? Beliau langsung gercep balas, silakan dipakai mbak, kalau untuk memajukan brand njenengan (Anda). Dari situ kita branding Lurik Ganjar ke semua medsos kita,” ungkapnya.

Lewat rebranding kain lurik itu, Lissa mulai merasakan dampak positifnya. Produk Kain Lurik Ganjar kian dikenal luas. Permintaan pun meningkat pesat

“Sangat berpengaruh sekali. Semakin dikenal dan penjualannya laris. Mulai dari kepala dinas, bupati, dekranasda. Ada juga umum dari Toraja, Sulawesi, Kalimantan hingga Malaysia,” imbuh generasi ketiga Lurik Rahmad itu.

Dengan permintaan yang kian meningkat, Lissa pun tertantang untuk kian berinovasi. Salah satunya dengan memperbanyak pilihan motif. Dari 13 motif, kini kain lurik tersebut berkembang menjadi 20 motif. 

Diantaranya motif klasik, muria, bumi pertiwi, empat dimensi, gerbong kemulyan, melodi, panorama, prambanan, borobudur. Kemudian, motif petronas, sindoro, gilang, kanigoro, litsu, sultan, dobby, petang, harmoni serta nusantara. Menurut Lissa, tiap motif tersebut memiliki cerita berbeda-beda.

Adapun dari sisi harga, kain Lurik Ganjar dibanderol Rp 200 ribu per meter. Dikatakan Lissa, pihaknya sangat menjaga kualitas produk. Ibaratnya, kata dia, selain menjual kain, dia juga menjual kualitas

“Kainnya kualitasnya di atas katun, dan ada sutera. Kalau sutera Rp 1,3 juta per meter. Saya jamin semua kain Lurik Ganjar kualitasnya bagus dan adem dipakai,” tuturnya.

Ya, dikatakan Lisa, Lurik Ganjar memang dibuat dengan cara khusus dan rahasia. Dengan kualitas bahan-bahan yang sangat terjaga. “Rahasia. Yang pasti, bahannya orisinal dan kualitas baik,” katanya.  

Dengan perkembangan bisnisnya saat ini, Lissa pun mengakui jika perhatian dan dukungan Ganjar terhadap UMKM tak main-main. Dari awalnya menjadi konsumen produk UMKM, Ganjar bahkan mengizinkan namanya dipakai. Sehingga branding produk tersebut bisa semakin kuat.

“Bapak itu sangat peduli terhadap UMKM. Kalau ada pameran tidak hanya lewat. Tapi juga membeli. Bahkan kalau dikasih souvenir itu tidak mau gratisan, pasti dibayar. Maaf, kalau yang lain dikasih ya diambil. Dan, beliau pasti dipakai, bukan hanya disimpan,” tandas Lissa yang kini memiliki empat pabrik kain lurik itu. (*/bay/ria/dwi)

Jawa Tengah