RADAR JOGJA – Kelompok Tani Ngudi Makmur di Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang berhasil melakukan panen perdana kentang Granola L. Berada pada lahan seluas satu hektare. Diharapkan dapat dijadikan sentra pembibitan kentang.

Bupati Magelang Zaenal Arifin ingin membuktikan Kabupaten Magelang dapat dijadikan sentra pembibitan kentang. Pada 2020, produksi komoditas kentang di Kabupaten Magelang mencapai 56.929 kuintal. Sementara, area pengembangan kentang di wilayah Kabupaten Magelang saat ini berada di Kecamatan Pakis, Kecamatan Ngablak, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Kaliangkrik. “Paling tidak bisa menambah kepercayaan masyarakat untuk bisa menggunakan bibit dari Kabupaten Magelang,” jelas Zaenal di sela panen perdana, Senin (1/11).

Zaenal juga mengungkapkan terima kasih dan apresiasi kepada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Jawa Tengah dan Anggota Komisi IV DPR RI Vita Ervina yang telah memprakarsai Kabupaten Magelang menjadi sentra pembibitan kentang.

Menurut dia, wilayah Kabupaten Magelang memang tidak mengalami kekurangan produksi kentang. Kendati demikian, inovasi harus tetapndilakukan. Sehingga, perlu adanya pengkajian dari BPTP agar bisa menghasilkan bibit yang unggul ataupun bagus.”Bicara mata rantai pertanian, yang pertama pasti adalah bibit. Inilah bagaimana kita mencari bibit yang unggul,” ucap Zaenal.

Anggota Komisi IV DPR RI Vita Ervina mengatakan, ingin mendorong konsumsi kentang sebagai subtitusi beras khusus di wilayah Kabupaten Magelang. Lantas, ia menggandeng BPTP agar bisa mengembangkan sentra pembibitan kentang yang bermutu.”Sebenarnya potensi dari nasional itu masih perlu kita dorong untuk konsumsi kentang. Di Magelang saya lihat dari data statistik ini masih sangat kurang tetapi memiliki potensi sangat banyak untuk bisa lebih kita tingkatkan lagi menjadi sentra pembibitan kentang,” ungkap Vita.

Sementara itu, Kepala BPTP Provinsi Jawa Tengah Joko Pramono menjelaskan, Jawa Tengah pada saat musim tanam kentang masih sangat banyak mendatangkan kentang dari luar Jawa Tengah. “Artinya potensi untuk pembibitan ini masih sangat terbuka. Bahkan di sebagian wilayah, petani masih menggunakan benih yang belum tersertifikasi benih lokal,” ujar Joko.

Dengan benih yang baik, diharapkan petani tidak hanya bisa meningkatkan produktivitas, namun juga bisa meningkatkan nilai tambah dari kentang itu sendiri. “Misalnya kentang saat ini pada kisaran harga Rp 8 ribu- Rp 10 ribu. Tapi kalau benih itu bisa sampai Rp 25 ribu. Jadi nilai tambah ini yang akan kita garap. Sehingga di Magelang ini ada upaya mandiri benih kentang,” terangnya. (cr1/pra)

Jawa Tengah