RADAR JOGJA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tidar Kota Magelang mulai krisis pasokan oksigen. Pasalnya, dari pesanan harian 50 tabung, yang diterima rumah sakit pelat merah itu tidak lebih dari 30-an tabung saja.

Meski demikian, Direktur RSUD Tidar, dr Adi Pramono Sp OG (K) mengatakan, jika penurunan pasokan ini belum membuat rumah sakit tersebut mengalami krisis oksigen.

”Tapi tetap saja ada perasaan khawatir dan deg-degan, karena kalau yang kita pesan 50-an per hari, yang datang, hanya 30-an. Sementara kebutuhan masih tinggi sampai sekarang ini,” kata dr Adi, Rabu (7/7).

Dia mengakui, oksigen di RSUD Tidar sudah tidak seimbang dengan kebutuhan yang ada. Hal ini seiring masih tingginya pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit rujukan tersebut. Belum lagi, untuk memenuhi kebutuhan pasien lainnya (non-Covid-19). ”Mencari oksigen sekarang ini terus terang sangat susah,” ujarnya.

Menurutnya, hampir setiap hari jumlah pengiriman tidak sesuai dengan pesanan. Parahnya lagi, rata-rata semua rumah sakit sekitar juga merasakan hal yang sama, yakni kekurangan pasokan oksigen.

”Sekarang kondisinya demikian, jumlah yang kami pesan mesti tidak terpenuhi saat dikirim. Bahkan, kami harus ambil sendiri ke agennya, seperti hari ini (kemarin) di PT Tira Klaten dari biasanya dikirim. Itu pun di sana harus antre lama,” katanya.

Meski dengan susah payah, dr Adi mengaku pihaknya tetap berupaya keras dengan cara apapun agar oksigen dapat terpenuhi. Apalagi, sebagian besar pasien di Ruang Dahlia yang ditempati pasien Covid-19 membutuhkan oksigen.

”Saya harap masyarakat tidak khawatir karena kita pasti mencari solusinya. Kami upayakan jangan sampai habis dan kekurangan. Kami cari ke manapun sampai dapat, seperti oksigen di Klaten dan Samator di Semarang. Kalau sifatnya cair (liquid) dikirim, tapi yang oksigen kami ambil sendiri,” jelasnya

Terkait kondisi instalasi gawat darurat (IGD), ia menyebutkan masih ramai hingga saat ini. Meski begitu, pelayanan tetap dibuka setelah sebelumnya sempat ditutup selama sekitar 24 jam, karena pasien membludak. (jpg/bah)

Jawa Tengah