RADAR JOGJA – Bedug Pendowo tak bisa dipisahkan dari keberadaan Masjid Agung Darul Muttaqin. Sejak dibangun pada era Bupati Purworejo RAA Tjokronengoro I sekitar tahun 1934. Masjid dan bedug tersebut menjadi saksi bisu jejak kehidupan di wilayah Kabupaten Purworejo.

Masjid Agung Darul Muttaqin hingga kini masih dimanfaatkan untuk beribadah umat Islam. Bahkan, masjid ini merupakan salah satu destinasi rombongan peziarah dari berbagai kota di Indonesia.

Takmir masjid menjaga bedug tersebut. Bedug diberi pagar pembatas sehingga tidak sembarang orang bisa menyentuh.

Berdasarkan catatan sejarah, Bedug Pendowo dibuat pada 1834 bersamaan dengan pembangunan Masjid Agung Darul Muttaqin. “Masjid dibangun untuk ibadah dan bedug dibuat kerabat RAA Tjokronegoro I beserta ulama dengan bahan kayu jati (dari) Pendowo,” ucap Takmir Masjid Darul Muttaqin HR Oteng Suherman dilansir dari Radar Purworejo.

Menurutnya, bedug dibuat kerabat RAA Tjokronegoro I dan ulama menggunakan bongkot atau pangkal batang pohon jati. Pohon jati ini tumbuh liar dan memiliki lima batang utama. Pohon jati tersebut tumbuh di Dusun Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi.

“Pohon jati tersebut ditebang. Batang utamanya dimanfaatkan untuk tiang masjid dan pendapa bupati Purworejo. Sementara dahan dan ranting besar dimanfaatkan untuk atap dan kusen masjid ibadah,” ujarnya.

Bagian bongkot, sambung Oteng, diserut kemudian dipahat secara manual hingga menjadi bedug berukuran panjang 292 sentimeter, diameter bagian depan 194 sentimeter, dan diameter belakang 180 sentimeter. “Lulang atau kulitnya bedug dari kulit sapi pemacek milik warga Winong, Kemiri,” ucapnya.

Setelah proses pembuatan selesai, sedug dibawa dari Dusun Pendowo menuju Masjid Agung Darul Muttaqin dengan dipimpin Kiai Irsyad, ulama asal Dusun Solotiyang, Desa Maron, Kecamnatan Loano. Konon, proses pengangkutan bedug menuju masjid membutuhkan waktu lebih dari 21 hari dengan berjalan kaki.

Bedug ini fungsinya sebagai penanda salat lima waktu. Bedug juga dibunyikan secara spesial saat Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, konon saat Indonesia merdeka, talu suara Bedug Pendowo ini dibunyikan dan menggema.

Sekarang Bedug Pendowo tidak ditabuh setiap menjelang salat lima waktu. Hanya ditabuh saat Salat Jumat dan perayaan hari besar Islam saja. Kulit bagian depan tampak masih asli. Hanya kulit bagian belakang yang sudah pernah diganti.

“Takmir masjid mencoba menjaganya. Jangan sampai rusak karena akan kesulitan mencari kulit pengganti jika jebol. Sekarang hanya dibunyikan seminggu sekali, setiap jelang Salat Jumat,” katanya. (tom/amd/din/er/ila)

Jawa Tengah