RADAR JOGJA – Tes GeNose C19 merupakan salah satu syarat perjalanan menggunakan kereta api ketika pandemi Covid-19. Bagi calon penumpang yang sedang puasa Ramadan, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan saat akan menjalani tes GeNose C19.

Layanan tes virus korona (Covid-19) dengan menggunakan alat GeNose C19 di Stasiun Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, diminati calon penumpang. Mereka memilih layanan ini karena biayanya lebih murah dibandingkan tes swab antigen.

Layanan ini sudah ada sejak 20 Maret lalu. “Sudah. Ada di Stasiun Kutoarjo mulai 20 Maret,” ujar Kepala Stasiun Kutoarjo Andi Febri Laksono saat dikonfirmasi Radar Purworejo beberapa waktu lalu.

Layanan tersebut banyak diminati calon penumpang. Sebab, hasil tes Ge-Nose menjadi salah satu syarat bagi para calon penumpang untuk melakukan perjalanan menggunakan kereta api jarak jauh. Di samping itu, tarif tes menggunakan alat produksi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta dinilai murah. Tarifnya sekitar Rp 30 ribu. Tarif ini lebih murah dibandingkan biaya swab antigen.

Seperti diketahui, GeNose C19 telah digunakan di 44 stasiun kereta api di Indonesia. Alat ini juga ada di empat bandar udara yaitu di Medan, Jogjakarta, Surabaya, dan Bandung.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan calon penumpang yang berpuasa Ramadan saat akan menjalani tes GeNose. Peneliti GeNose C19 Dian Kesumapramudya mengatakan, GeNose masih dapat digunakan untuk skrining Covid-19 saat puasa. Namun, ada beberapa hal khusus yang perlu diperhatikan agar hasilnya dapat akurat.

“Diupayakan pemeriksaan GeNose dilakukan saat pagi hari,” kata Dian.

Dian mengatakan, pemerikasaan dapat dilakukan seoptimal mungkin berjarak enam jam setelah sahur. Jika waktunya lebih dari itu maka dikhawatirkan ada peningkatan asam lambung yang dapat mempengaruhi hasil tes. “Meski asam lambung dapat diatasi dengan berkumur, tetapi lebih baik kurang dari enam jam sesudah sahur,” beber dia.

Dikatakan, saat ini GeNose C19 sedang berproses validasi eksternal sebelum digunakan untuk penanganan Covid-19 secara nasional. Itu merupakan uji diagnostik yang dilakukan secara independen oleh tim peneliti lain . Yakni, dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Andalas.

“Jika dari validasi eksternal hasil akurasi konsisten, kemungkinan akan direkomendasikan Kemenkes untuk perluasan pemakaiannya, termasuk di puskesmas-puskesmas,” ungkap dia.

Sementara itu, anggota peneliti lain Mohamad Saifuddin Hakim menjelaskan, waktu lain yang dianjurkan untuk pemeriksaan GeNose saat Ramadan adalah setelah berbuka puasa. “Satu jam setelah berbuka puasa,” imbuhnya.

Disebutkan, pada hari biasa pun mereka yang akan menjalani tes diminta berpuasa atau tidak makan dan minum yang berbau khas. Mereka diminta tidak merokok sekitar 30 hingga 60 menit sebelum pemeriksaan. “Itu dapat meminimalkan terjadinya positif palsu hasil pembacaan alat,” ujar dia. (han/amd/ila)

Jawa Tengah