RADAR JOGJA – Dua bulan terakhir, limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) infeksius di wilayah Kebumen mengalami penurunan. Di RSUD Dr Soedirman Kebumen tercatat, pada Maret mencapai 5,7 ton. Dengan rincian limbah Covid-19 sebanyak 1,6 ton, limbah medis B3 4,1 ton dan limbah vaksin hanya 8,8 kilogram.

Sanitarian RSUD Dr Soedirman Yunaryadi menjelaskan, puncak dari banyaknya limbah infeksius terjadi pada Desember 2020 dan Januari lalu. Pada Desember, tercatat limbah yang dihasilkan mencapai 7,4 ton. Dengan rincian limbah Covid-19 sebanyak 3,97 ton dan 3,4 ton limbah medis B3.

Sedangkan pada Januari, jumlah limbah mencapao 9,8 ton. Yakni 4,7 ton limbah Covid-19, limbah medis B3 sebanyak 5 ton dan 20,65 kilogram limbah vaksin. “Dua bulan terakhir ini sudah mulai menurun,” jelas Yadi seperti dilansir Radar Purworejo.

Untuk penanganan Covid-19, limbah akan dikategorikan infeksius. Mulai dari jarum suntik, plastik yang tercampur darah, hingga sisa makanan. Limbah infeksius tersebut, akan diambil oleh pihak ketiga sebagai pengolah dari Solo setiap dua hari sekali. Sedangkan untuk limbah medis non infeksius, akan diolah kembali. Hasil pengolahan, akan diambil oleh pihak ketiga dari Jogjakarta setiap satu bulan sekali. “Setiap hari bisa mencacah sampai 17 kilogram limbah medis noninfeksius,” tuturnya.

Sementara itu, Kabid Penunjang Medis dan Non Medis RSUD Dr Soedirman Kebumen Kuat Handoko menuturkan limbah infeksius yang disimpan di pembuangan sementara dipastikan aman. Hal ini karena pemilahan dan pengemasan dilakukan dengan teliti. Jika ada limbah nonmedis yang berada di ruang perawatan Covid-19, akan ssecara otomatis dikategorikan limbah infeksius. “Jadi yang ada di tempat pembuangan sementara juga sudah aman,” kata Kuat. (eno/din/er/ila)

Jawa Tengah